Kota Mataram

DPRD Kota Mataram Desak Pengawasan Ketat Kawasan Pesisir Usai Dua Pelajar Tewas Terseret Arus

Mataram (NTBSatu)DPRD Kota Mataram meminta pengawasan serta upaya mitigasi keselamatan di kawasan pesisir. Permintaan itu usai tragedi meninggalnya dua pelajar yang terseret arus di kawasan Pantai Penghulu Agung, Ampenan.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nayayu Ernawati, menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum evaluasi bersama bagi pemerintah, masyarakat, maupun pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya, meningkatkan kewaspadaan di kawasan pantai yang rawan gelombang tinggi serta arus laut.

“Kami sangat berduka cita atas hilangnya anak-anak kita. Ini bukan hanya duka bagi keluarga korban, tetapi juga duka bagi masyarakat Kota Mataram. Anak-anak adalah tanggung jawab bersama,” ujar Nayayu, Minggu, 31 Mei 2026.

IKLAN

Menurutnya, pemerintah perlu perketat pengawasan di kawasan pesisir. Terutama, saat cuaca tidak menentu maupun ketika gelombang laut sedang tinggi. Keselamatan pengunjung pantai harus menjadi perhatian bersama mengingat kawasan tersebut kerap menjadi lokasi aktivitas warga, termasuk anak-anak.

“Cuaca serta kondisi laut belakangan ini perlu menjadi perhatian serius. Tingkat awareness atau kepedulian masyarakat terhadap keselamatan harus lebih tinggi. Siapa pun yang melihat potensi bahaya perlu memiliki kepekaan untuk saling mengingatkan,” katanya.

Nayayu mengungkapkan, sejak menerima informasi kejadian tersebut, ia langsung berkoordinasi dengan instansi terkait. Termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), guna memastikan proses pencarian korban berjalan maksimal.

IKLAN

Ia juga mendorong pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi di kawasan pesisir. Mulai dari edukasi keselamatan bagi masyarakat, pemasangan rambu peringatan di titik rawan, hingga peningkatan patroli pada lokasi yang sering menjadi tempat bermain anak-anak.

“Kejadian ini harus menjadi pelajaran bersama. Jangan sampai musibah serupa kembali terulang. Upaya pencegahan perlu kita perkuat melalui edukasi serta pengawasan yang lebih maksimal di kawasan pesisir,” tegasnya.

Dua Pelajar Terseret Arus

Sebelumnya, dua pelajar sekolah dasar dilaporkan terseret arus di kawasan Pantai Penghulu Agung atau sekitar Mako Brimob Polda NTB, Ampenan, Jumat petang (29/5). Tim SAR gabungan kemudian menemukan keduanya dalam kondisi meninggal dunia.

Korban pertama, Peter Lionel Alexander Seda (13), ditemukan pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026 sekitar pukul 09.00 WITA di pesisir Pantai Skip, Kelurahan Ampenan. Sementara korban kedua, Anindita Mantika (10), ditemukan pada Minggu pagi (31/5) sekitar pukul 10.00 WITA mengapung di perairan sekitar lokasi pencarian.

Data lapangan menunjukkan kawasan pesisir Ampenan, khususnya saat cuaca ekstrem, memiliki karakter arus balik atau *rip current* yang berpotensi membahayakan pengunjung. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan perhatian lebih melalui pengawasan, edukasi, serta langkah mitigasi yang berkelanjutan.

Musibah yang menimpa kedua korban menjadi pengingat jika keselamatan anak di kawasan wisata pantai bukan semata tanggung jawab keluarga.

“Ini tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, lingkungan, serta masyarakat,” pungkas Nyanyu. (*)

Artikel Terkait

Back to top button