Hadapi Kekeringan, NTB Usulkan Ratusan Pompa untuk Petani
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung cukup panjang. Meski, wilayah NTB disebut belum masuk kategori zona merah terdampak paling parah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah Bapuangan menyampaikan, berdasarkan data BMKG, dampak El Nino di NTB masih berada pada level yang perlu diwaspadai, terutama bagi sektor pertanian.
Karena itu, katanya, Pemprov NTB mendorong langkah adaptasi agar produksi pertanian tetap terjaga di tengah perubahan pola cuaca yang tidak menentu.
“NTB sementara tidak berada di zona merah El Nino yang keras, tetapi tetap harus waspada. Kita sudah pernah menghadapi kondisi seperti ini pada 2015, 2019, dan 2023, sehingga sekarang tinggal memperkuat adaptasi,” katanya, Senin, 27 April 2026.
Memastikan produksi pertanian tetap terjaga selama musim kemarau, ia meminta masyarakat memanfaatkan pompa air bantuan pemerintah. Khususnya untuk wilayah kering yang masih memiliki sumber air. Saat ini kebutuhan pompanisasi dari daerah tengah disisir agar distribusinya tepat sasaran.
Terkait program pompanisasi, Pemprov NTB masih menunggu kepastian alokasi dari Kementerian Pertanian. Meski demikian, usulan kebutuhan dari kabupaten/kota telah dihimpun dan sedang diverifikasi agar tidak terjadi ketimpangan.
“Pemprov NTB mulai mendorong penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim sebagai strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim global,” jelasnya.
Ia menilai, konsep ini mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan terhadap hama dan penyakit, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui penurunan emisi gas rumah kaca.
“Sekarang pola hujan sudah sulit diprediksi. Karena itu teknik budidaya harus menyesuaikan dengan iklim yang berubah,” ujarnya.
Dorong Masyarakat Lakukan Pemetaan Sumber Air
Ia juga mendorong, masyarakat melakukan pemetaan daerah-daerah yang memiliki sumber air cukup untuk tanaman padi. Ia meminta petani tidak memaksakan menanam padi di lahan yang minim air.
“Coba beralih ke komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi kekeringan,” ujarnya.
Penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), dan petugas lapangan disebut telah diberi pemahaman untuk mengedukasi petani terkait pola tanam yang tepat selama El Nino yang diprediksi berlangsung sekitar 8–9 bulan.
Selain itu, percepatan masa tanam juga menjadi strategi yang disiapkan agar petani bisa memanfaatkan ketersediaan air saat masih mencukupi. Ia juga mendorong penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan dan komoditas berumur pendek untuk mengurangi risiko gagal panen.
“Kalau padi tidak memungkinkan, bisa diarahkan ke jagung, cabai, tembakau, atau komoditas lain yang lebih hemat air. Ini bukan alih fungsi lahan, tetapi adaptasi komoditas,” katanya. (*)



