Oleh: Farid Tolomundu – Pemerhati Kebijakan Publik dan Sekretaris Partai Gelora NTB
Indonesia sedang menghadapi paradoks kesehatan yang mematikan. Di satu sisi, pemerintah gencar mempromosikan transformasi kesehatan dan pembangunan rumah sakit megah di berbagai daerah. Namun di sisi lain, fondasi utama dari sistem tersebut—yakni ketersediaan dokter spesialis—sedang keropos akibat sistem rekrutmen mahasiswa kedokteran yang kian mirip dengan pelelangan barang mewah daripada seleksi intelektual.
Bobroknya sistem penerimaan mahasiswa kedokteran, terutama melalui jalur mandiri, telah menciptakan tembok api (firewall) yang memisahkan bakat terbaik dari peluang pengabdian. Biaya yang selangit bukan lagi sekadar angka untuk menutupi operasional laboratorium, melainkan manifestasi dari komersialisasi pendidikan yang menggadaikan masa depan kesehatan rakyat demi pundi-pundi institusi.



