ADVERTORIALPendidikan

Fatepa Unram–UPM Malaysia Kupas Limbah Pertanian Jadi Produk Bernilai untuk Pangan dan Kesehatan

Mataram (NTBSatu) – Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram (Unram), menggelar kuliah tamu internasional bersama Fakultas Teknik Universiti Putra Malaysia (UPM), Selasa, 21 April 2026.

Forum tersebut menyoroti potensi limbah pertanian yang selama ini terbuang menjadi bahan bernilai ekonomi tinggi untuk industri pangan, kesehatan, hingga pakan ternak.

Dekan Fatepa Unram, Dr. Ir. Satrijo Saloko, M.P., membuka secara langsung kegiatan tersebut di Ruang Sidang Fatepa. Kuliah tamu ini menghadirkan tiga akademisi UPM Malaysia, yakni Prof. TS. Dr. Rosnah Shamsudin, FASc., Dr. Zanariah Mohd Dom, dan Dr. Nur Hamizah Abdul Ghani.

Dalam forum tersebut, para narasumber memaparkan berbagai hasil riset terkait teknologi pengolahan ramah lingkungan, pemanfaatan limbah pertanian, hingga faktor yang memengaruhi kualitas cita rasa kopi.

Persoalan limbah pangan menjadi perhatian global seiring meningkatnya dorongan terhadap industri berkelanjutan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat sekitar sepertiga pangan dunia terbuang setiap tahun, padahal sebagian masih memiliki kandungan yang dapat dimanfaatkan kembali.

Prof. Rosnah Shamsudin menilai, limbah pertanian selama ini masih dipandang sebagai sisa produksi semata. Padahal, banyak di antaranya mengandung serat dan senyawa alami yang berpotensi menjadi produk pangan maupun kesehatan.

“Yang dibuang sering kali justru bagian yang masih memiliki nilai,” ujarnya.

Ia mencontohkan, limbah seperti kulit nangka dan kakao yang dapat diolah menjadi bahan tambahan pangan hingga produk kesehatan. Menurutnya, tren penelitian pangan global kini bergerak menuju teknologi ramah lingkungan yang lebih efisien dan minim limbah.

Beberapa metode yang mulai berkembang antara lain pemanfaatan gelombang mikro, gelombang suara berfrekuensi tinggi, serta penggunaan enzim alami dalam proses ekstraksi. Rosnah menjelaskan, teknologi tersebut mampu meningkatkan hasil produksi dengan penggunaan energi dan pelarut yang lebih rendah.

Penerapan di Industri Jadi Tantangan

Namun, tantangan terbesar masih terletak pada penerapannya di sektor industri. “Banyak penelitian berhasil di laboratorium. Tetapi tantangannya adalah bagaimana teknologi itu bisa diterapkan dalam skala industri,” katanya.

Sementara itu, Dr. Zanariah Mohd Dom memaparkan, pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan tambahan pakan ikan dan unggas. Ia menjelaskan, kulit pisang mengandung serat, kalium, dan senyawa alami yang bermanfaat bagi kesehatan hewan.

“Kulit pisang dapat membantu mengurangi stres pada ikan dan memperbaiki kesehatan pencernaan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan, kulit pisang tidak bisa menjadi bahan utama pakan karena kandungan proteinnya relatif rendah. Formulasi tetap memerlukan tambahan nutrisi lain agar sesuai dengan kebutuhan ternak.

Selain itu, kulit pisang juga berpotensi sebagai bahan penyerap minyak dan air, serta sebagai bahan tambahan dalam produk pangan.

Di sisi lain, Dr. Nur Hamizah Abdul Ghani menyoroti pentingnya pengendalian proses pemanggangan dalam menentukan kualitas kopi. Ia menyebut, faktor iklim dan kondisi lingkungan turut memengaruhi kadar air biji kopi yang berdampak langsung pada rasa dan aroma.

“Iklim memengaruhi kadar air biji kopi. Itu akan berdampak pada hasil pemanggangan dan cita rasa kopi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, aroma kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari suhu, kadar air, hingga metode penyeduhan. Dalam paparannya, ia juga membahas teknik penyeduhan seperti metode tetes, rendam, hingga kombinasi tekanan.

Kuliah tamu berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, mahasiswa, serta peserta daring dari berbagai institusi. Diskusi mencakup efektivitas teknologi pengolahan modern, peluang penerapan di industri, hingga pengaruh perubahan iklim terhadap kualitas komoditas seperti kopi dan teh.

Para narasumber menilai penelitian berbasis limbah pertanian memiliki peluang besar untuk dikembangkan di kawasan Asia Tenggara yang kaya komoditas tropis. Namun, mereka menekankan pentingnya penguatan riset terapan dan kolaborasi dengan sektor industri agar inovasi tidak berhenti di tingkat laboratorium. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button