OpiniWARGA

Kedokteran Kita: Kursi bagi Si Kaya, Krisis bagi Si Miskin

​Rantai Setan: Biaya Mahal dan Krisis Spesialis

​Hubungan antara mahalnya biaya pendidikan dokter umum dengan krisis dokter spesialis di rumah sakit bukanlah kebetulan. Ini adalah hubungan sebab-akibat yang linear.

​Seorang mahasiswa yang telah menghabiskan miliaran rupiah (akumulasi biaya kuliah, buku, hingga biaya hidup selama minimal 6-7 tahun) untuk menjadi dokter umum, secara psikologis dan finansial akan merasa tertekan untuk segera melakukan “pengembalian investasi” (return on investment). Hal ini mendorong mereka untuk terjun ke praktik-praktik yang paling menguntungkan secara ekonomi, yang biasanya terkonsentrasi di kota-kota besar.

IKLAN

​Masalah semakin meruncing saat mereka ingin mengambil Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Hingga baru-baru ini, Indonesia menerapkan sistem yang sangat unik sekaligus aneh di dunia: calon dokter spesialis harus berhenti bekerja, membayar biaya pendidikan yang mahal, dan seringkali bekerja tanpa gaji di rumah sakit pendidikan selama bertahun-tahun.

IKLAN

​Siapa yang mampu bertahan dalam sistem seperti ini? Hanya mereka yang memiliki modal besar. Akibatnya, jumlah produksi dokter spesialis kita sangat minim—hanya sekitar 2.700 per tahun, sementara kita membutuhkan setidaknya 29.000 hingga 30.000 dokter spesialis tambahan untuk mencapai rasio ideal.

IKLAN

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button