Oleh: Musta’in, M.Ed. – Dosen Tetap Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam (IAI) Nurul Hakim
Kertas Tii Mama Reti “Surat untuk mama Reti”, Mama galo zee “mama pelit sekali“, Molo Mama “Selamat tinggal mama”.
Sepucuk surat pendek itu ditulis dengan bahasa ibu, penuh kepolosan, dan berakhir dengan kesunyian yang mengguncang nurani bangsa. Surat tersebut ditinggalkan oleh seorang anak sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memilih mengakhiri hidupnya. Bukan karena sakit, bukan karena kekerasan fisik, melainkan karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya untuk membeli buku pelajaran.
Tragedi ini bukan sekadar peristiwa personal atau keluarga. Ia adalah cermin retak kebijakan publik, khususnya dalam sektor pendidikan, yang belum sepenuhnya berpihak kepada kelompok paling rentan.



