Ketika Kemiskinan Menjadi Beban Psikologis Anak
Psikolog klinis Anna Surti Ariani menjelaskan bahwa pada rentang usia 7–12 tahun, anak mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen bagi orang lain, tetapi belum sepenuhnya memahami implikasinya terhadap diri sendiri. Anak bisa memandang kematian sebagai “jalan pergi” dari tekanan, bukan sebagai akhir yang tak dapat dibatalkan.
Dalam konteks kemiskinan ekstrem, tekanan itu menjadi berlipat. Anak korban adalah bagian dari keluarga miskin kroni, ia tinggal bersama neneknya yang bekerja sebagai pemecah kemiri di rumah tetangganya, sedangkan ibu tinggal di kampung sebelah bersama adik-adiknya juga dalam ekonomi yang sangat terpuruk. Anak mungkin tidak memahami angka-angka ekonomi, tetapi sangat peka terhadap kecemasan, kelelahan, dan ketidakberdayaan orang tua. Permintaan buku tulis dan pen yang ditolak bukan diterjemahkan sebagai keterbatasan finansial, melainkan sebagai kesimpulan tragis: aku adalah beban.
Di titik inilah pendidikan gagal hadir sebagai ruang aman dan negara absen sebagai pelindung terakhir.



