OpiniWARGA

Siap Peras Darah untuk HMI: Refleksi Milad HMI Ke-79 untuk Indonesia

Menanam Benih Entrepreneurship: Jalan Baru Kemandirian Ekonomi HMI

Di tengah hiruk-pikuk diskursus politik yang mendominasi ruang gerak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pengenalan kewirausahaan (entrepreneurship) kini bukan lagi sekadar pilihan sampingan, melainkan kebutuhan eksistensial. Selama hampir delapan dekade, HMI dikenal sebagai “pabrik” pemimpin politik dan birokrat, namun seringkali abai dalam membangun pilar kekuatan ekonomi yang mandiri bagi kadernya. Memasuki Milad ke-79, HMI harus menyadari bahwa kemerdekaan berpikir dan keberanian bersikap hanya bisa tegak secara konsisten jika ditopang oleh kemandirian finansial. Tanpa kemandirian ekonomi, kader rentan terjebak dalam pragmatisme yang melunturkan idealisme perjuangan.

Mengintegrasikan semangat entrepreneurship ke dalam jati diri kader berarti menerjemahkan nilai “Mahasiswa Intelektual Organik” secara lebih konkret dan produktif. Kewirausahaan dalam perspektif HMI tidak boleh dipandang sempit hanya sebatas mencari keuntungan finansial, melainkan sebagai bentuk ijtihad ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan kemaslahatan bagi umat. Dengan menanamkan mentalitas wirausaha, HMI sedang menyiapkan kader yang tidak hanya mahir berdialektika di podium, tetapi juga tangguh dalam mengelola sumber daya, mengambil risiko yang terukur, serta inovatif dalam memecahkan masalah sosial melalui pendekatan bisnis yang etis.

Tantangan terbesar dalam mengenali dunia kewirausahaan di lingkungan HMI adalah mendobrak budaya instan dan ketergantungan pada patronase politik. Sejarah panjang organisasi yang dekat dengan lingkaran kekuasaan terkadang membuat kader lebih tertarik pada jalur distribusi daripada jalur produksi. Oleh karena itu, kurikulum perkaderan perlu menyisipkan literasi keuangan dan manajerial yang kuat, agar diskusi di komisariat tidak hanya berhenti pada teori-teori sosial, tetapi juga menyentuh strategi pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) atau startup berbasis teknologi. Pergeseran paradigma ini penting untuk memastikan bahwa HMI tetap relevan dalam menghadapi ancaman resesi global dan disrupsi pasar kerja.

Selain sebagai alat kemandirian individu, entrepreneurship di HMI harus diarahkan pada pembangunan ekosistem ekonomi kolektif. Kekuatan jaringan alumni dan kader yang tersebar di seluruh pelosok nusantara merupakan aset luar biasa yang jika dikelola dengan semangat kewirausahaan, akan menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat. Dengan membangun koperasi, inkubator bisnis, atau jaringan distribusi antar-kader, HMI dapat menciptakan kemandirian organisasi yang tidak lagi bergantung pada sumbangan eksternal. Kemandirian kolektif inilah yang akan memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi HMI dalam menentukan arah kebijakan bangsa tanpa harus tersandera oleh kepentingan para pemodal besar.

Sebagai penutup, pengenalan kewirausahaan sebagai bekal kemandirian ekonomi adalah langkah berani untuk mengaktualisasikan semangat pengabdian HMI secara utuh. Kader yang mandiri secara ekonomi adalah kader yang merdeka secara politik dan jernih dalam menjaga nalar kritisnya. Menuju Milad ke-79, HMI harus bertransformasi menjadi wadah yang tidak hanya melahirkan pemikir hebat, tetapi juga eksekutor ekonomi yang handal. Dengan menjadikan kewirausahaan sebagai bagian dari napas perjuangan, HMI akan terus tegak berdiri sebagai organisasi yang berdaya, memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan bangsa, dan memastikan bahwa panji-panji hijau-hitam tetap berkibar di atas kaki yang mandiri.

Tentu, ini adalah langkah strategis untuk mentransformasikan semangat Asta Cita ke dalam gerak nyata organisasi. Berikut adalah narasi usulan program kerja dan silabus pelatihan entrepreneurship untuk HMI di tingkat Komisariat atau Cabang:

Program kerja ini dirancang melalui skema “HMI Entrepreneur Hub”, sebuah inkubator bisnis internal yang bertujuan melahirkan kader mandiri secara ekonomi guna menjaga independensi etis dan organisatoris. Program ini akan dimulai dengan pelatihan intensif yang menggunakan silabus berjenjang, dimulai dari internalisasi nilai ekonomi dalam Khittah Perjuangan untuk membangun mentalitas entrepreneurial, diikuti dengan teknis riset pasar melalui metode Design Thinking. Kader tidak hanya diajarkan untuk berbisnis, tetapi juga dilatih peka terhadap masalah sosial di sekitarnya untuk diubah menjadi peluang solusi ekonomi yang berkelanjutan.

Silabus pelatihan ini secara spesifik mencakup penguasaan teknologi digital dan tata kelola legalitas usaha, selaras dengan semangat modernisasi dalam Asta Cita. Materi akan difokuskan pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi operasional, strategi pemasaran digital melalui branding yang kuat, hingga pengurusan izin usaha seperti NIB dan sertifikasi Halal bagi produk UMKM kader. Dengan kurikulum yang praktis, setiap peserta diwajibkan menyusun Business Model Canvas (BMC) yang akan diuji melalui sesi pitching di hadapan para mentor dari kalangan alumni (KAHMI) atau praktisi profesional, guna mendapatkan masukan serta akses permodalan yang nyata.

Sebagai tindak lanjut konkret, HMI di tingkat Cabang atau Komisariat dapat membentuk “Pojok Dagang Kader” dan menjalin kemitraan strategis dengan dinas terkait atau sektor swasta untuk pendampingan jangka panjang. Program ini tidak hanya berhenti pada seremoni pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pembentukan koperasi mahasiswa atau platform pasar digital internal sebagai ekosistem pendukung. Melalui ikhtiar ini, HMI akan mampu membuktikan bahwa mereka bukan hanya kawah candradimuka bagi calon politisi, tetapi juga rahim bagi para sosiopreneur muda yang siap menyokong ketahanan ekonomi nasional demi mewujudkan cita-cita Indonesia Maju.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button