OpiniWARGA

Siap Peras Darah untuk HMI: Refleksi Milad HMI Ke-79 untuk Indonesia

Oleh: Tata Sapriadin – Komisi Riset dan Inovasi PB HMI

Milad ke-79, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri di sebuah titik balik sejarah yang menuntut refleksi mendalam mengenai hakikat perjuangannya. Sebagai organisasi yang lahir dari rahim revolusi, HMI membawa beban sejarah untuk terus menghidupkan dualitas identitas yang tak terpisahkan: keislaman yang substantif dan keindonesiaan yang inklusif. Visi ini bukanlah dua kutub yang saling menjauh, melainkan dua sisi mata uang yang memberi nilai pada setiap gerak kader. Di tengah arus globalisasi yang sering kali mencabut akar identitas bangsa, HMI harus kembali mempertegas bahwa perjuangan membela Islam adalah perjuangan membela Indonesia, di mana nilai-nilai ketauhidan diterjemahkan menjadi aksi nyata dalam menjaga kedaulatan dan keadilan sosial di bumi pertiwi.

Seiring bertambahnya usia, tantangan untuk merawat visi keislaman yang moderat dan progresif menjadi kian krusial bagi setiap kader. Di tengah polarisasi pemikiran yang kerap membelah masyarakat, HMI memikul amanah untuk menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—Islam yang menjadi solusi atas problematika kemanusiaan, bukan sekadar pelarian simbolis. Refleksi menuju usia ke-79 ini harus mampu membangkitkan kesadaran bahwa intelektualitas kader adalah instrumen untuk membumikan ajaran langit ke dalam realitas sosial. Kader HMI dituntut untuk tidak hanya cakap dalam berdialektika tentang teologi, tetapi juga mampu mentransformasikan iman menjadi amal saleh intelektual yang mampu menjawab tantangan kemiskinan, ketimpangan, dan krisis moral bangsa.

Pada dimensi keindonesiaan, militansi HMI diuji oleh sejauh mana organisasi ini tetap konsisten menjadi pengawal demokrasi dan penjaga persatuan di tengah kemajemukan. Menuju delapan dekade pengabdiannya, HMI tidak boleh terjebak dalam kepentingan politik elektoral yang sempit yang dapat mengaburkan komitmen kebangsaannya. Visi keindonesiaan HMI adalah visi tentang Indonesia yang adil dan makmur, di mana setiap kebijakan negara harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pengabdian masyarakat menjadi jalan panjang yang harus ditempuh agar kader HMI tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi menjadi arsitek yang merancang masa depan Indonesia dengan landasan moral yang kokoh.

Dalam perjalanan Panjang Umur Himpunan Mahasiswa Islam seharusnya kader HMI siap peras darahnya untuk HMI. Maksud dari peras darahnya untuk HMI yaitu mampunya kader totalitas dalam ikhtiar memperjuangkan Keislaman dan Keindonesiaa. Perjuangan Panjang para pendahulu seharusnya mampu mereprentasikan dalam jati diri kader sekarang yang sejatinya perjuangannya lebih banyak dan tantangan pendahulu lebih besar. Ikhtiar kader HMI bukan hanya untuk sekarang akan tetapi tercitra diri sampai akhir hayat dengan tujuan mulianya terbinanya mahasiswa islam menjadi insan Ulul Albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang di rihoi Allah SWT.

Perjalanan menuju Milad ke-79 adalah momentum untuk menyalakan kembali api semangat “Insan Ulul Albab” dalam sanubari setiap kader. Perjuangan HMI belum usai; ia hanya berganti medan dan tantangan dari kolonialisme fisik menuju kolonialisme pemikiran dan ekonomi. Dengan tetap memegang teguh independensi etis dan organisatoris, HMI harus mampu membuktikan bahwa integrasi visi keislaman dan keindonesiaan adalah kunci utama bagi kebangkitan peradaban bangsa. Hanya dengan nalar yang jernih dan hati yang terpaut pada nilai-nilai ketuhanan, HMI akan terus tegak berdiri sebagai kawah candradimuka pemimpin bangsa, memastikan bahwa setiap langkahnya selalu berujung pada satu tujuan mulia: bahagia HMI, jayalah Indonesia.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button