HEADLINE NEWS

Gubernur Iqbal, “Orang Kecil” dan Kemiskinan

Catatan: Agus Talino

Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal tak kuasa menahan air matanya. Suaranya tercekat. Kesedihannya dalam. Dia tak tahan melihat kemiskinan di daerahnya. Kemiskinan di NTB adalah nyata. Angkanya masih cukup tinggi. Data Maret 2025. 11,78 persen. Lebih tinggi dari rata nasional. 8,47 persen pada periode yang sama.

Peristiwa itu terjadi di Pendopo Gubernur NTB. Ketika Pak Iqbal melepas jemaah umrah yang difasilitasi dan dibantu keberangkatannya, Rabu (21/2/2026) lalu. Jumlah jemaah umrah yang difasilitasi 30 orang. Niatnya 100 orang. InsyaAllah sisanya akan diberangkatkan pada kesempatan yang lain.

“Banjir” air mata terjadi pada saat itu. Jemaah umrah larut dalam “emosi” yang sama. Banyak jemaah air matanya tumpah. Ketika Pak Iqbal berbicara tentang kemiskinan. Berbicara tentang komitmennya membantu masyarakat NTB terbebas dari kemiskinan. Pak Iqbal berbicara dengan nada sedih dan tangis. Niatnya, “pulang” sebagai Gubernur hanya satu. Ingin menjadikan NTB lebih baik.

IKLAN

Pak Iqbal mohon kepada jemaah umrah mendoakan masyarakat NTB agar keluar dari kemiskinan. Mendoakan dirinya agar bisa membebaskan masyarakat NTB dari kemiskinan.

Kemiskinan di NTB bukan kemiskinan yang dikenalnya sebagai konsep. Konsep di atas meja. Tetapi realitas keseharian. Bahkan menurut Pak Iqbal, kemiskinan yang ditemukan melebihi yang dibayangkannya.

Karena itu, dia mempunyai tekad yang kuat untuk mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan.

Fakta kemiskinan yang ditemukan ketika datang ke banyak tempat. Menyapa masyarakat dari rumah ke rumah. Benar-benar menggugah nuraninya. Seperti palu godam menghantam relung hatinya yang paling dalam. Mengoyak hatinya sebagai pemimpin. Dia menangis.

Cerita “orang dekatnya” yang sering mendampingi Pak Iqbal datang melihat dan menyapa masyarakat. Pak Iqbal tak jarang meneteskan air mata. Dan minta maaf kepada masyarakat yang hidupnya belum beruntung. Masih terlilit kemiskinan.

Sebagai pemimpin. Pak Iqbal hatinya tersayat menjumpai masyarakat yang hidupnya sulit. Tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk hidup layak.

Kemiskinan sangat berpengaruh pada anak-anak yang masih kecil. Anak-anak yang seharusnya bisa menjalani hidup dengan baik. Terpaksa menanggung derita. Karena orang tuanya tak bisa memenuhi kebutuhannya dengan layak. Akibatnya, anak-anaknya tidak bisa ikut “bermain” seperti anak-anak lain yang lahir dari orang tua yang mampu.

Perhatian yang kuat Pak Iqbal pada masyarakat yang berada pada garis kemiskian. Menyentuh hati banyak orang. Setidaknya, jemaah umrah yang hadir pada acara pelepasan keberangkatannya di Pendopo.

Fathurrahman, Cleaning Service (CS) di BPSDM NTB, jemaah umrah yang difasilitasi mengatakan, sulit memilih padanan kata yang pas untuk menyampaikan terima kasihnya yang mendalam kepada Pak Iqbal sebagai Gubernur atas perhatian dan kebaikan pada dirinya. Dia tidak pernah menduga akan mendapatkan hadiah umrah dari Gubernur. “Saya sangat bersyukur. Tidak cukup kalau saya hanya berterima kasih. Lebih dari terima kasih,” ungkapnya berkaca-kaca.

Kalau mengukur dari kemampuan ekonominya katanya, dia belum mampu untuk berangakat umrah. “Niat umrah ada. Tetapi saya belum punya kemampuan,” ujarnya.

Sama dengan, Fathurrahman. Ahmad Usman, CS di Dinas Pertanian NTB mengatakan, yang sangat menyentuh hatinya adalah perhatian Gubernur pada “orang-orang kecil”. Bentuknya, orang-orang yang diberi hadiah umrah sebagian besar adalah orang-orang yang bekerja dalam sunyi. Pagawai “kecil” yang boleh jadi tidak banyak orang “melihatnya”. Bukan pejabat yang kerap mendapatkan “sorotan” kamera. Atau orang-orang “penting” yang sering tampil pada “panggung” kehormatan.

Menyelesaikan kemiskinan bukan perkara mudah. Butuh tim yang kompak. Pak Iqbal perlu memiliki teman bekerja yang memiliki “hati” yang sama dengannya melihat kemiskinan. Memiliki empati yang kuat pada orang-orang “kecil” dan kemiskinan. Orang yang jiwanya terpanggil untuk bekerja dengan ikhlas dan tulus. Frekuensinya harus sama. Tujuannya, agar yang diinginkan Pak Iqbal “sentuhannya” sama.

Tantangan terbesar Pak Iqbal adalah “menemukan” orang yang tepat untuk membantunya mewujudkan cita-cita besarnya. Meletakkan kemiskinan sebagai “musuh” bersama. Orang-orang yang tidak sebatas “mencintai” jabatannya. Tetapi punya tanggung jawab besar pada tugasnya. Termasuk menyelesaikan kemiskinan ekstrem pada 2029 mendatang.

“Karakter” Pak Iqbal yang hangat dan akrab. Seharusnya tak sulit untuk menemukan orang-orang yang tulus membantu dan bekerja sama dengannya. “Energinya” yang positif bisa menjadi magnet untuk menarik orang-orang yang sama dengan dirinya. Mempunyai ketulusan dan empati. Termasuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan Bupati dan Wali Kota. Bergerak cepat. Maju bersama. Menjadikan NTB “Makmur Mendunia”. Semoga. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button