Pariwisata

Disorot karena Komentar soal Agam Rinjani, Igor Amtenar: Saya Hanya Bereaksi atas Berita

Mataram (NTBSatu) – Bassis Amtenar, Igor, menanggapi beragam respons publik atas komentarnya terkait kasus Agam Rinjani yang sebelumnya ramai di media sosial. Sebagian masyarakat mendukung pandangannya, sementara sebagian lainnya melontarkan kritik.

Usai konferensi pers peluncuran album “Riddim In The Air” di Kemuning Cafe, Kota Mataram, Selasa malam, 23 Juni 2026, Igor menjelaskan, ia hanya merespons informasi yang beredar dengan cara dan gaya bahasa yang selama ini melekat pada dirinya.

“Kalau aku nggak melihat ke situ. Aku hanya bereaksi terhadap berita dengan menggunakan narasi dan gaya bahasaku sendiri,” kata Igor.

IKLAN

Menurutnya, tidak semua orang memahami pesan yang ingin ia sampaikan secara utuh. Perbedaan sudut pandang itulah yang kemudian memunculkan beragam penafsiran.

“Ternyata gaya bahasaku itu tidak semua menangkap dengan kepala. Mereka menangkap hanya dengan mata. Jadi yang kontra menganggap aku pro, yang pro menganggap aku kontra,” ujarnya.

Meski perdebatan terus bergulir, Igor memilih tidak memberikan penjelasan tambahan untuk mengarahkan opini publik. Ia memahami, setiap orang memiliki cara sendiri dalam membaca dan menafsirkan sebuah pernyataan.

IKLAN

“Tapi aku membiarkan itu. Aku nggak mencoba meluruskan maksudku begini atau begitu. Karena aku paham, tidak semua kepala bisa mengerti jalan pikiranku,” katanya.

Tidak Mencari Kambing Hitam

Igor menegaskan, ia tidak menyalahkan pihak mana pun dalam polemik tersebut. Ia juga tidak ingin menyeret persoalan itu ke dalam perdebatan yang lebih panjang.

Baginya, setiap pihak memiliki cara masing-masing dalam merespons peristiwa yang terjadi di Gunung Rinjani. Karena itu, ia memilih menghormati pandangan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Aku juga tidak menyalahkan media, tidak menyalahkan orang di Sembalun, dan tidak menyalahkan Agam. Semua punya cara sendiri-sendiri reaksinya,” ujarnya.

Sebagai musisi yang lahir dan tumbuh di Lombok, Igor mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Gunung Rinjani. Gunung yang menjulang di utara Pulau Lombok itu bahkan kerap hadir dalam karya-karya Amtenar.

“Amtenar dari dulu punya lagu tentang Rinjani dan selalu bereaksi ketika Rinjani ada sesuatu,” katanya.

Di tengah riuh perdebatan yang memenuhi ruang digital, Igor mengajak masyarakat untuk tidak larut terlalu lama dalam polemik. Menurutnya, perhatian publik seharusnya tertuju pada penyelesaian masalah, bukan sekadar memperpanjang perdebatan.

“Aku hanya nggak mau persoalan itu ngubek-ngubek soal itu aja. Kalau ada masalah, selesaikan. Jangan lari,” ujarnya.

Ia menilai keberanian tidak cukup ditunjukkan melalui komentar atau pendapat di media sosial. Keberanian juga tercermin dari kesediaan seseorang menghadapi konsekuensi dan menyelesaikan persoalan yang muncul.

“Kalau kamu merasa jantan dan pemberani, selesaikan masalahmu. Jangan lari,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Igor juga mengibaratkan cara berpikir dan gaya bahasanya seperti perjalanan mendaki Gunung Rinjani. Tidak semua orang akan menempuh jalur yang sama atau sampai pada pemahaman yang sama.

Seperti pendaki yang menapaki jalur terjal menuju puncak, setiap orang membawa bekal pemikiran yang berbeda. Ada yang berhenti di tengah jalan, ada pula yang mampu melihat lanskap secara utuh dari ketinggian.

“Pemikiranku dan gaya bahasaku itu seperti orang naik Rinjani. Kalau nggak punya dasar pemikiran yang kuat, dia bisa jatuh ke jurang saat membaca tulisanku. Tapi kalau yang cerdas, dia bisa selamat sampai ke puncak,” tutup Igor. (*)

Artikel Terkait