Birokrasi yang Kehilangan Kreasi

Oleh: Badrul Munir – Mantan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB)
Ada masa ketika birokrasi adalah rumah bagi gagasan-gagasan besar. Tempat di mana orang-orang terbaik bertarung dengan ide, bukan dengan kedekatan.
Hari ini, rumah itu terasa sunyi.
Kita menyebutnya meritokrasi, dan kita menuliskannya dengan indah di dalam peraturan. Kita bingkai dengan kata-kata profesional: manajemen talenta, uji kompetensi, sistem merit. Namun di lorong-lorong kantor, kata itu kehilangan suaranya. Meritokrasi tinggal menjadi slogan di atas kertas, yang dibaca dalam sambutan, lalu dilupakan dalam keputusan.
Karena yang berlaku kemudian bukan lagi pertanyaan tentang apa prestasimu, melainkan siapa yang dekat denganmu.
Ketika kedekatan lebih berharga daripada kecakapan, maka birokrasi perlahan kehilangan nalarnya. Orang-orang cerdas memilih untuk diam. Orang-orang kreatif memilih untuk menepi. Bukan karena mereka tak mampu berkreasi, melainkan karena mereka tahu: kreasi tak pernah lebih nyaring dari bisikan lingkaran kekuasaan.
Di titik inilah reward and punishment runtuh.
Kita gagal membedakan yang bekerja dengan sepenuh hati dan yang hanya hadir untuk menggugurkan waktu. Kita menyamaratakan penghargaan, sehingga yang rajin merasa dikhianati dan yang malas merasa dilindungi. Tak ada hadiah bagi keberanian, tak ada konsekuensi bagi kelalaian. Akhirnya, semua belajar satu rumus yang sama: jangan berbeda pendapat, jangan berinovasi, cukup aman.
Birokrasi yang tidak menghargai karya, akan diisi oleh penjaga status quo.
Dan yang paling menyedihkan adalah ketika nakhoda kehilangan kemudinya.
Kepala daerah, yang seharusnya menjadi kompas, perlahan kehilangan kendali. Bukan karena ia lemah, melainkan karena di sekelilingnya tumbuh sebuah lingkaran luar — mereka yang tak punya jabatan formal, namun memiliki kuasa informal. Mereka yang tak pernah dilantik, namun ikut melantik. Mereka yang mengatur arah hanya dengan pesan singkat, pertemuan di ruang gelap, dan janji-janji yang tak tercatat.
Ketika birokrasi disetir dari luar, maka birokrat tak lagi tahu harus loyal kepada siapa: kepada aturan, atau kepada orang dekat aturan.
Dan di sinilah luka itu menjadi dalam.
Mengembalikan semangat birokrasi ke sumbu normalnya tidak pernah mudah. Ia butuh waktu yang lama. Ia butuh biaya yang besar.
Ia tak secepat membunuh karakter seseorang.
Ia tak secepat membentuk tim buzzer untuk memuja dan mencaci.
Meruntuhkan kepercayaan hanya butuh satu malam. Satu mutasi yang tidak adil, satu promosi yang penuh kolusi, satu kebohongan yang dipertontonkan. Tapi untuk membangunnya kembali, kita butuh bertahun-tahun kerja yang sunyi, konsisten, dan melelahkan.
Karena yang rusak bukan sekadar sistem, melainkan harapan.
Maka, cara terbaik untuk memulihkannya sesungguhnya sederhana, namun paling sulit dilakukan: pemimpin harus menjadi teladan.
Bukan teladan dalam kata-kata sambutan, melainkan dalam keseharian. Sesuai antara kata dan perbuatan. Sejalan antara janji di atas panggung kampanye dengan kenyataan di ruang rapat.
Ketika pemimpin berkata tentang integritas, maka ia sendiri yang pertama menolak titipan jabatan.
Ketika ia berkata tentang inovasi, maka ia sendiri yang pertama melindungi anak buahnya yang berani berbeda. Dan, berani memecah kemapanan.
Ketika ia berkata tentang pelayanan, maka ia sendiri yang pertama datang dan mendengarkan, bukan hanya memerintah.
Birokrasi hanya akan percaya kembali ketika ia melihat contoh, bukan ketika ia mendengar jargon.
Pada akhirnya, negara yang besar tidak dibangun oleh mereka yang paling dekat dengan kekuasaan, melainkan oleh mereka yang paling setia pada gagasan dan pekerjaan.
Kreasi harus kembali. Dan ia hanya akan kembali jika sumbunya diluruskan kembali oleh keteladanan di puncaknya.
Rezim waktu tak mengenal gerak henti. Setiap orang ada masanya, dan masa itu tak mungkin kembali. Ia akan terus bergerak mengikuti ritme zaman. (*)




