Mori Hanafi Respons Soal Mohan Didukung Iqbal: Mudah-mudahan Bisa Bersaing dengan Baik!
Mataram (NTBSatu) – Persaingan calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026-2030 mulai menghangat.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menyatakan kesiapan maju dan mendapat dukungan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal.
Anggota DPR RI, Mori Hanafi, menjadi salah satu kandidat yang lebih awal menyatakan kesiapan maju. Sementara Mohan menyampaikan niatnya mengikuti pemilihan Ketua KONI NTB baru-baru ini.
Mori tidak mempermasalahkan pencalonan Mohan. Ia justru menganggap kehadiran kandidat lain sebagai bagian dari proses kompetisi.
“Ya saya pikir kalau dia maju silakan aja. Asal dia merasa bisa gak apa apa ini nantinya. Kita lihat aja,” kata Mori kepada NTBSatu, Senin, 28 September 2026.
Mori Soroti Pengalaman Organisasi Mohan
Mori kemudian menyinggung pengalaman Mohan dalam organisasi olahraga. Menurutnya, calon Ketua KONI NTB harus memiliki kemampuan mengelola organisasi secara serius.
Mori mengaitkan hal tersebut dengan pengalaman Mohan saat memimpin Pengurus Provinsi (Pengprov) Wushu NTB. Ia menilai, pengalaman tersebut perlu menjadi bahan pertimbangan dalam kompetisi Ketua KONI NTB.
“Karena setau saya waktu dia pegang wushu aja, Wushu aja gak diurus sama dia. Mati bahkan organisasinya selama 9 bulan,” kritik Mori.
Mori menyebut kemampuan mengelola organisasi menjadi hal penting karena KONI memiliki tanggung jawab terhadap banyak cabang olahraga.
“Wushu aja gak bisa diurus, lah bagaimana urus KONI yang membawahi 67 cabang olahraga,” kata Politisi NasDem tersebut.
Meski melontarkan kritik, Mori tetap menyambut pencalonan Mohan. Ia berharap, seluruh kandidat dapat mengikuti kompetisi secara sehat.
“Tapi saya sambut baik saja, mudah-mudahan nanti bisa bersaing dengan baik,” ujarnya.
Mori Pertanyakan Dukungan Iqbal kepada Mohan
Mori juga menanggapi keputusan Iqbal untuk tidak melanjutkan pencalonan sebagai Ketua KONI NTB. Ia mengaku menyayangkan keputusan tersebut.
“Ya saya sih menyayangkan, harusnya Gubernur ikut aja terus. Kan lebih baik Pak Gubernur daripada Mohan,” kata Mori.
Meski Iqbal memberikan dukungan kepada Mohan, Mori tetap menyatakan kesiapan menghadapi kompetisi. Ia justru mempertanyakan posisi Iqbal ketika memberikan dukungan tersebut.
“Ini Pak Iqbal dukung Mohan ini sebagai pribadi atau sebagai gubernur?,” ujarnya.
Mori meminta publik membedakan posisi Iqbal sebagai pribadi dengan kedudukannya sebagai Gubernur NTB. Menurutnya, hal tersebut penting dalam melihat dukungan pada pemilihan Ketua KONI NTB.
“Makanya saya tanya, ini gubernur atau Iqbal? Harus dibedakan ya?” katanya.
Mori kemudian menyinggung persaingan yang pernah ia jalani bersama Iqbal. Ia menyebut banyaknya dukungan dari sejumlah tokoh tidak otomatis menentukan hasil sebuah kompetisi.
“Kemarin saya bersaing sama dengan Pak Gubernur, hasilnya Draw (seri, red). Saya biasa saja,” kata Mori.
Mori juga menyebut Iqbal sebelumnya memperoleh dukungan dari sejumlah tokoh ketika mengikuti kompetisi.
“Padahal juga kemarin Pak Iqbal kekuatan penuh kan?. Didukung sama Mohan, didukung sama Wagub, didukung sama Ibu Isvie, didukung sama Muazzim, didukung sama banyak orang,” sambungnya.
“Saya tidak melihat ada yang istimewa dari koalisi-koalisi ini, biasa saja. Kita hadapin, tidak ada persoalan,” tegasnya.
Mori Minta Kandidat Tawarkan Konsep Konkret
Mori kemudian mengarahkan perhatian pada substansi kepemimpinan KONI NTB. Ia meminta setiap kandidat menawarkan konsep kerja yang konkret, terutama untuk menghadapi agenda Pekan Olahraga Nasional (PON).
Menurut Mori, target prestasi harus berjalan bersama strategi, perhitungan anggaran, serta langkah kerja yang jelas. Ia menilai pernyataan mengenai target lima besar belum cukup tanpa penjelasan mengenai cara mencapainya.
“Kalau saya jadi ketua KONI, maka NTB akan lima besar. Nah lima besar ini masih dari mana aja? Bagaimana caranya? Bagaimana ngaturnya?. Kan itu normatif semua yang dibilang Pak Gubernur,” kata Mori.
Mori juga menyoroti kebutuhan teknis apabila NTB mendapat kesempatan menjadi tuan rumah PON. Ia menyebut anggaran, keamanan, transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga rangkaian pembukaan dan penutupan sebagai bagian dari persiapan.
“Kita butuh yang konkret, nggak bisa abstrak dong,” ujarnya.
Mori menyatakan timnya telah menyiapkan rancangan kerja untuk menghadapi berbagai kebutuhan tersebut. “Kalau kami, kami sudah punya master plan-nya,” katanya.
Ia meminta seluruh kandidat mempertimbangkan tanggung jawab yang muncul setelah terpilih sebagai Ketua KONI NTB. Menurutnya, posisi tersebut bukan sekadar jabatan, tetapi membawa tanggung jawab terhadap prestasi olahraga daerah.
“Jadi saya ingatkan, hati-hati. Ini kita bukan bicara personal, bicara untuk keuntungan pribadi. Ini kita bicara untuk daerah kita. Coba pikir yang panjang. Jangan asal maju,” sambungnya.
Mori menegaskan NTB membutuhkan pemimpin KONI yang siap bekerja keras menghadapi agenda olahraga. “Ini kita butuh orang yang benar-benar kerja gila,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan dalam mengelola KONI dapat membawa dampak terhadap nama daerah. “Kalau kalian caranya salah bagaimana? Yang malu bukan kalian, tapi NTB,” ujarnya.
Sementara itu, Mohan sebelumnya menyampaikan pencalonannya bertujuan memperkuat prestasi dan tata kelola olahraga NTB. Ia juga menilai persiapan menuju PON membutuhkan pengelolaan yang matang.
Persaingan Ketua KONI NTB periode 2026-2030 kini menghadirkan sejumlah perhatian, mulai dari pengalaman organisasi hingga konsep kerja.
Dukungan tokoh juga menjadi bagian dari dinamika, sementara gagasan dan kesiapan kandidat akan menjadi perhatian dalam proses pemilihan. (*)




