Pemerintahan

Kemarau Panjang Ancam Padi NTB, BPTP Minta Petani Pilih Benih Tahan Kekeringan

Mataram (NTBSatu) – Kemarau berkepanjangan mulai mengancam tanaman padi di NTB. Balai Perlindungan Tanaman Pertanian (BPTP) NTB, meminta petani memilih varietas tahan kekeringan untuk menekan risiko puso.

Plt. Kepala BPTP Provinsi NTB, Lalu Sahman mengatakan, kondisi kemarau menuntut petani lebih cermat memilih varietas sebelum memulai penanaman.

Menurutnya, petani perlu memilih benih yang mampu bertahan saat lahan mengalami keterbatasan air.

IKLAN

“Petani itu sekarang lebih pintar memilih benih. Harus mencari benih yang tahan terhadap kekeringan,” kata Sahman kepada NTBSatu, Senin, 28 September 2026.

Sahman menyebut, Situ Bagendit dan Inpari 13 Fortek sebagai varietas yang dapat menjadi pilihan petani saat menghadapi kondisi kekeringan.

Sementara itu, petani masih paling banyak menanam varietas Inpari 32 di NTB. Sahman menilai varietas tersebut mampu beradaptasi pada lahan kering dan sawah tadah hujan.

IKLAN

“Sekarang ini yang paling banyak tanaman di NTB ini Inpari 32 dan hasilnya masih tinggi, sampai 8 ton lebih,” ujarnya.

Sahman mengatakan sekitar 60 persen penanaman padi di NTB menggunakan Inpari 32. Selain itu, petani juga banyak menanam Inpari 42, Ciherang, dan Ciliwung.

Namun, kekurangan air bukan satu-satunya ancaman bagi tanaman padi. BPTP NTB juga memantau serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada sejumlah wilayah.

Sahman menyebut penggerek batang padi dan wereng batang cokelat sebagai dua hama yang banyak muncul saat musim kering.

“Wereng batang cokelat ini, bahkan berpotensi menyebabkan puso,” katanya.

Laporan serangan hama telah muncul dari sejumlah kabupaten/kota. Lombok Tengah menjadi wilayah dengan tingkat serangan yang paling berat.

“Yang paling berat ini di Lombok Tengah,” katanya.

Andalkan POPT

Untuk mengantisipasi serangan meluas, pihaknya mengandalkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) untuk memantau kondisi tanaman secara berkala.

Petugas POPT akan melaporkan perkembangan serangan hama sebagai dasar penerapan sistem peringatan dini sebelum BPTP menjalankan Gerakan Pengendalian (Gerdal).

Sahman mengatakan, pihaknya telah menjalankan Gerdal pada seluruh kabupaten/kota di NTB. Gerakan tersebut mencakup tanaman padi, jagung, kedelai, hingga kacang tanah.

Selain ancaman hama, Sahman menyampaikan, pihaknya juga menerima laporan penurunan debit air dari kelompok tani pada sejumlah wilayah.

Dengan demikian, lanjut Sahman, untuk membantu petani yang masih memiliki sumber air, brigade BPTP menyediakan pompa dengan skema pinjam pakai.

“Beberapa petani kita telah menggunakan fasilitas tersebut, contoh di Kecamatan Gerung, Kuripan, serta sejumlah wilayah Lombok Tengah,” jelasnya.

Sementara itu, bagi lahan yang tidak memiliki sumber air, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB untuk mengatur debit dan aliran irigasi.

Koordinasi itu mencakup pengaturan debit sungai serta pola buka-tutup aliran irigasi untuk memenuhi kebutuhan air petani.

Menurut Sahman, kondisi petani semakin berat karena penurunan debit air berlangsung bersamaan dengan perbaikan jaringan irigasi pada sejumlah wilayah.

Di Gerung, Lombok Barat, kekeringan telah berdampak pada sekitar 110 hektare lahan. Penurunan debit air dan perbaikan jaringan irigasi turut memperparah kondisi tersebut.

“Kalau sudah debit airnya sudah tidak ada, ya kami tidak bisa berbuat banyak,” kata Sahman.

Selain itu, Laboratorium Klinik Tanaman BPTP NTB membantu pengendalian OPT melalui identifikasi hama dan penyakit serta produksi agens hayati.

BPTP memanfaatkan sejumlah agens hayati, seperti PGPR, Trichoderma, Metarhizium, dan Paenibacillus untuk pengendalian secara preventif.

“Penggunaan agens hayati juga kita arahkan untuk membantu tanaman menghadapi kondisi kekeringan, salah satunya dengan mendukung pertumbuhan akar agar tanaman dapat menyerap air dan nutrisi lebih dalam,” jelasnya.

BPTP NTB rutin menjalankan pengendalian preventif menggunakan agens hayati, terutama pada periode Agustus hingga September.

“Petugas menggunakan metode tersebut saat tingkat serangan OPT masih berada di bawah ambang ekonomi,” ujarnya.

Namun, jika serangan telah melampaui ambang ekonomi, petugas dapat merekomendasikan penggunaan pestisida kimia atau sintetis sesuai kebutuhan.

Pantau Sejumlah Tanaman

Tak hanya tanaman pangan, pihaknya juga memantau tanaman perkebunan, seperti tembakau, kopi, dan kakao.

Pada musim kemarau, tanaman tembakau lebih berisiko mengalami serangan hama, termasuk kutu kebul yang dapat membawa virus penyebab daun mengeriting.

“Sementara itu, untuk kondisi tanaman kopi dan kakao masih relatif aman dari serangan OPT yang signifikan,” jelas Sahman.

Ia menambahkan, petugas juga mendorong petani kopi dan kakao melakukan pemangkasan, sanitasi lahan, serta panen secara rutin sebagai langkah pengendalian.

BPTP NTB mengutamakan metode pengendalian nonkimia pada komoditas perkebunan karena pasar ekspor menetapkan persyaratan residu pestisida yang ketat.

Laboratorium Klinik Tanaman juga menerima sampel tanaman dari petugas maupun petani untuk mengidentifikasi penyakit pada akar, batang, dan daun.

Proses identifikasi membutuhkan waktu sekitar satu minggu karena petugas perlu menumbuhkan sampel sebelum menentukan penyebab penyakit.

“Jenis OPT yang menyerang tanaman dapat berbeda antardaerah karena dipengaruhi kondisi dan karakteristik wilayah masing-masing,” jelasnya.

Sahman mengatakan pemantauan lapangan menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan serangan hama dan penyakit pada tanaman di NTB.

Petugas POPT mengirimkan laporan perkembangan serangan secara berkala. BPTP NTB kemudian mengolah data tersebut sebagai dasar menentukan langkah pengendalian.

“Intinya sekarang petani harus pintar memilih benih dan menyesuaikan dengan kondisi lahannya,” ujar Sahman.

Sahman juga mengimbau petani segera melaporkan serangan hama, penyakit, maupun kekeringan kepada petugas. Langkah cepat penting untuk mencegah kerusakan meluas. (*)

Artikel Terkait