Pemprov NTB Tangani 20 Titik Jalan Rusak, Pengerjaan Terkendala Pasokan Aspal dan Semen
Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB mengalokasikan anggaran untuk menangani hampir 20 titik jalan rusak melalui APBD Perubahan 2026. Kendati siap secara teknis dan anggaran, pemerintah di lapangan menghadapi hambatan akibat pasokan aspal dan semen yang belum kembali normal.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Provinsi NTB, Lalu Kusuma Wijaya menjelaskan, pihaknya mengalokasikan tambahan anggaran sekitar Rp6 miliar pada APBD Perubahan 2026. Anggaran ini melengkapi pemeliharaan sembilan titik jalan yang sebelumnya bersumber dari APBD Murni.
“Penanganan pada APBD Perubahan mencakup sekitar 20 titik jalan, termasuk infrastruktur yang rusak akibat banjir dan longsor. Kami memfokuskan porsi perbaikan terbanyak di Pulau Sumbawa,” ujar Lalu Kusuma Wijaya, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pihaknya memetakan titik perbaikan tersebut di sejumlah wilayah strategis, antara lain Pusuk Sembalun Kabupaten Lombok Timur, Bima, Dompu, Lingkar Tambora, Kota Bima, hingga Raba Kodo.
Rantai Pasok dan Persaingan Proyek Jadi Pengganjal
Meskipun menyusun perencanaan teknis secara matang, Pemprov NTB belum bisa mengeksekusi pemeliharaan jalan secara maksimal akibat keterbatasan material utama.
Ia membeberkan, penyedia bahan baku maupun Asphalt Mixing Plant (AMP) belum mampu memulihkan pasokan semen dan aspal. Dinamika rantai pasok global turut memicu kelangkaan aspal yang biasa datang dari Lembar, Buton, hingga Sulawesi tersebut.
Wijaya menyampaikan, distributor besar maupun pengecer kecil juga belum menyalurkan semen secara normal.
Menurutnya, kondisi ini makin pelik karena proyek Pemprov NTB harus berebut pasokan material dengan proyek-proyek tingkat kabupaten/kota. Proyek kabupaten/kota mengikat penyedia material dengan kontrak ketat yang mengancam penyedia dengan denda atau penalti jika terlambat. Alhasil, penyedia material cenderung mendahulukan kebutuhan proyek daerah tersebut.
Ia mengatakan, keterbatasan material ini memaksa tim lapangan menunda penutupan jalan secara menyeluruh, yang berpotensi memicu keluhan masyarakat.
LWijaya menegaskan bahwa pihaknya tidak membiarkan proyek perbaikan jalan ini mangkrak atau molor. Namun, keterbatasan bahan baku menghambat tim untuk mempercepat pengerjaan sesuai target awal.
Pemprov NTB berharap para penyedia dapat memulihkan ketersediaan dan distribusi material pada November mendatang, sehingga tim bisa segera menyelesaikan seluruh perbaikan infrastruktur jalan di NTB.
Krisis Semen Dipicu Masalah Batu Bara dan Alat Pelabuhan
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Lalu Wiranata, membeberkan bahwa kelangkaan pasokan semen sempat memicu kenaikan inflasi di daerah.
“Gangguan produksi pada pabrik yang tidak menerima pasokan batu bara secara optimal memicu kelangkaan ini. Kondisi tersebut sempat mengejutkan pemerintah, mengingat kebutuhan semen biasanya melonjak hingga 40.000 ton menjelang akhir tahun untuk menunjang berbagai proyek pemerintah serta pembangunan di era kepemimpinan kepala daerah baru,” jelas Wiranata, Senin, 19 Oktober 2026.
Selain masalah pasokan batu bara, ia menyebutkan bahwa pengelola pabrik juga menghadapi kendala operasional di pelabuhan pengiriman, seperti kerusakan alat pengemasan (packing) semen di Pelabuhan Lembar.
Menanggapi persoalan ini, ia mengatakan kementerian terkait telah memanggil para pengelola pabrik untuk menjamin kuota semen bagi NTB.
Saat ini, para distributor mulai melancarkan kembali pengiriman semen. Petugas di Pelabuhan Lembar pun sudah bisa mengemas pasokan semen curah secara langsung.
Pemprov NTB optimistis pasokan bahan bangunan penting ini segera pulih sepenuhnya untuk menopang keberlanjutan berbagai proyek pembangunan di NTB. (*)




