Kabupaten Bima

Pemda Tak Kunjung Turun, Warga Desa Teta Patungan Aspal Jalan

Bima (NTBSatu) – Sudah cukup lama menanti perbaikan jalan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima, masyarakat Desa Teta, Kecamatan Lambitu, akhirnya memilih bergerak secara mandiri.

Ribuan warga Desa Teta bergotong royong mengumpulkan dana untuk memperbaiki sekaligus mengaspal sejumlah titik jalan yang selama ini menjadi akses utama masyarakat.

Kepala Desa Teta, Kecamatan Lambitu, Muamar Ziaudin, membenarkan adanya aksi swadaya masyarakat tersebut. Ia mengatakan, aksi ini karena kondisi jalan di wilayahnya sudah sangat memprihatinkan. Sementara masyarakat membutuhkan akses yang aman untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

IKLAN

Menurut Muamar, terdapat tiga titik yang menjadi perhatian warga. Dari jumlah itu, masyarakat sudah melakukan pengaspalan pada dua titik. Anggaran pengaspalan ini melalui swadaya masyarakat. Sedangkan satu titik lainnya masih dalam proses penimbunan menggunakan tanah dan kerikil.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada pada tanjakan dekat permukiman warga dengan panjang sekitar 30 hingga 40 meter.

“Ini bentuk swadaya masyarakat. Ada tiga titik, dua titik sudah kami aspal dan satu titik masih timbunan tanah dan kerikil,” kata Muamar, Senin, 28 September 2026.

IKLAN

Ia menjelaskan, kondisi jalan tersebut semakin sulit dilalui karena berada di lintasan yang mengalami patahan dan pergerakan tanah. Kondisi tersebut membuat jalan yang sebelumnya pernah diperbaiki kembali mengalami kerusakan.

Masyarakat, kata dia, sebenarnya sudah beberapa kali melakukan gotong royong memperbaiki jalan dengan pengecoran semen. Namun, cara tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara permanen.

Jalan Rusak Sebabkan Kecelakaan

Bahkan, kondisi jalan yang curam dan licin telah beberapa kali menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Muamar mencontohkan, pekan lalu terjadi kecelakaan ketika sebuah kendaraan pikap tidak mampu menanjak. Kendaraan tersebut akhirnya mundur dan menyebabkan pengemudinya mengalami patah tulang.

Peristiwa tersebut kemudian mendorong warga kembali menggalang dana untuk memperbaiki jalan.

“Pekan lalu ada pikap yang tidak bisa naik, akhirnya mundur. Pengemudinya sampai patah tulang. Dari situ masyarakat kembali bergerak melakukan penggalangan dana,” ujarnya.

Warga kemudian mengumpulkan uang secara sukarela. Selain dana, masyarakat juga bergotong royong menyediakan material dan tenaga untuk pengerjaan jalan.

Untuk kebutuhan pengaspalan di salah satu titik, masyarakat mengeluarkan biaya yang mencapai sekitar Rp20 juta. Dana tersebut untuk berbagai kebutuhan, termasuk mobilisasi dan penyewaan peralatan. Sementara pekerjaan di lapangan dilakukan secara gotong royong oleh warga.

“Warga menggalang dana, ada juga pihak-pihak yang membantu. Pengerjaannya tetap secara manual, termasuk warga yang turun langsung bekerja,” jelasnya.

Muamar mengatakan, jalan di Desa Teta sebenarnya pernah mendapatkan pengaspalan. Namun, pengaspalan terakhir sekitar tahun 2015 lalu.

Pada periode pemerintahan sebelumnya, kata dia, sejumlah ruas jalan di Kecamatan Lambitu juga mulai mendapat perhatian. Termasuk pada bagian tanjakan dari arah Roka. Namun, perbaikan tersebut belum menjangkau seluruh titik yang mengalami kerusakan.

Pemerintah Desa Teta, lanjut Muamar, telah berulang kali berkoordinasi dengan Pemkab Bima. Pihak desa juga telah menyampaikan kondisi jalan melalui surat dan pertemuan langsung dengan jajaran Dinas Pekerjaan Umum.

Namun, hingga kini masyarakat masih harus melakukan perbaikan secara swadaya.

“Kami sudah beberapa kali bersurat dan juga bertemu langsung dengan Pak Kadis PU. Kami tetap koordinasi dan berharap ada perhatian untuk jalan di Teta,” katanya.

Minta Perhatian Pemerintah

Muamar menegaskan, masyarakat Desa Teta tidak meminta hal yang berlebihan. Mereka hanya berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.

“Harapan Desa Teta tidak ada yang lain, hanya akses jalan. Kami juga butuh deker dan jembatan karena kondisinya banyak yang sudah rusak parah,” ungkapnya.

Ia menyebut, bahkan terdapat jembatan yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Pemerintah desa juga telah melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena berkaitan dengan kerusakan akibat pergerakan tanah.

Menurutnya, perbaikan infrastruktur di Desa Teta tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Namun, jika dibiarkan, dampaknya justru semakin luas terhadap kehidupan masyarakat.

“Kalau diperbaiki sebenarnya tidak butuh biaya terlalu besar. Tetapi karena titik patahan cukup banyak, masyarakat kesulitan mengakses jalan,” kata dia menegaskan.

Ia berharap, Pemkab Bima dapat segera turun melihat langsung kondisi jalan dan infrastruktur di Desa Teta.

Muamar menyebut, sampai saat ini masyarakat masih menunggu perhatian pemerintah daerah. Bahkan, menurut keterangannya, Bupati Bima belum berkunjung langsung ke Desa Teta untuk melihat kondisi tersebut.

Bagi masyarakat, persoalan jalan bukan hanya menyangkut kenyamanan perjalanan, tetapi juga menyangkut ekonomi, pendidikan, kesehatan dan keselamatan.

Karena itu, masyarakat memilih untuk tidak hanya menunggu. Mereka turun bersama-sama, mulai dari orang tua, pemuda, hingga ibu-ibu dan anak-anak, untuk memperbaiki akses yang setiap hari mereka gunakan.

“Semua warga turun. Ibu-ibu juga ikut, anak-anak juga ada yang turun. Ini karena jalan memang menjadi kebutuhan kami,” pungkas Muamar. (MRS)

Artikel Terkait