Nasional

Strategi BJ Habibie Pulihkan Rupiah saat Krisis 1998

Mataram (NTBSatu) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pernah menyentuh titik terendah, saat krisis ekonomi 1998.

Kala itu, kurs rupiah sempat berada pada level Rp17.000 per dolar AS. Situasi tersebut memicu kepanikan besar pada sektor ekonomi, perbankan, hingga investasi nasional.

Namun, kondisi perlahan berubah setelah Presiden ke-3 Indonesia, B. J. Habibie mengambil sejumlah langkah pemulihan ekonomi. Dalam waktu relatif singkat, rupiah mulai menguat hingga mencapai kisaran Rp6.500 per dolar AS.

IKLAN

Harapan terhadap penguatan rupiah kembali muncul saat nilai tukar mata uang Indonesia terus melemah pada 2026. Data per Senin, 18 Mei 2026 mencatat rupiah berada pada level Rp17.672 per dolar AS.

Kondisi tersebut mengingatkan publik pada krisis moneter 1998. Saat itu, Habibie memimpin Indonesia dalam masa penuh tekanan ekonomi dan ketidakstabilan politik.

Kemudian, Habibie menerapkan berbagai strategi untuk memulihkan kepercayaan pasar dan memperkuat sistem ekonomi nasional.

IKLAN

Cara B.J. Habibie Kuatkan Rupiah

Melansir Kompas.com, Senin, 18 Mei 2026, berikut ini strategi B.J. Habibie untuk memperkuat nilai rupiah saat krisis 1998:

1. Restrukturisasi Sektor Perbankan

Habibie memulai langkah pemulihan lewat restrukturisasi bank. Pemerintah menggabungkan sejumlah bank agar memiliki modal dan pendanaan lebih kuat. Kebijakan tersebut melahirkan Bank Mandiri sebagai hasil merger beberapa bank nasional.

Selain itu, Habibie juga memisahkan Bank Indonesia dari kendali pemerintah. Kebijakan tersebut memberi independensi kepada bank sentral sehingga publik kembali percaya terhadap sistem keuangan nasional.

2. Cari Investor Asing

Habibie aktif mencari dukungan investor asing untuk menghidupkan kembali ekonomi Indonesia. Ia memanfaatkan forum internasional dan bertemu para pemimpin Asia serta investor Inggris dalam KTT London pada 1 April 1998.

3. Pulihkan Kredibilitas Sistem Perbankan

Habibie juga fokus memperkuat kredibilitas sektor perbankan nasional. Pemerintah menyiapkan aturan kepailitan, memperketat pengawasan bank, serta memperkuat posisi Bank Indonesia.

Habibie juga meminta investor asing menyampaikan berbagai persoalan investasi secara terbuka. Ia menjamin, penyelesaian masalah tersebut dalam dua hingga tiga tahun.

Habibie menegaskan, pemulihan ekonomi harus berjalan sesuai konstitusi agar stabilitas sosial dan politik tetap terjaga. Langkah tersebut akhirnya menghasilkan perubahan besar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Hasilnya, investor asing mulai kembali menanamkan modal ke Indonesia. Nilai tukar rupiah perlahan bergerak naik dari Rp17.000 menuju Rp6.500 per dolar AS.

Pemulihan tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik menjadi 0,79 persen pada 1999, setelah sebelumnya terkontraksi minus 13,33 persen pada 1998. Tingkat kemiskinan nasional juga turun dari 24,2 persen menjadi 23,4 persen. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button