Internasional

Profil Nirmal Purja, Legenda Pendaki Dunia yang Gugur di Gunung Broad Peak

Mataram (NTBSatu) – Dunia pendakian internasional kehilangan salah satu sosok paling fenomenal setelah Nirmal Purja, pendaki dunia asal Nepal, meninggal dunia. Ia meninggal akibat terjangan longsor salju di Gunung Broad Peak, kawasan Pegunungan Karakoram, Pakistan pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Kepergian sosok yang akrab disapa Nims Dai ini meninggalkan duka mendalam bagi publik global serta komunitas pendaki gunung dunia.

Kakak Purja, Kamal Purja menegaskan, dedikasi serta rekor kebanggaan sang adik akan terus abadi dalam ingatan publik. Ia menambahkan, keluarga sangat bangga atas seluruh warisan keberanian dan pencapaian yang telah diukir oleh Nirmal sepanjang hidupnya.

IKLAN

​”Dengan hati yang sangat berat saya membagikan berita duka bahwa adik lelaki saya yang tercinta, Nirmal ‘Nimsdai’ Purja, dan para pendaki lainnya telah tiada,” tulisnya, mengutip BBC pada Senin, 3 Agustus 2026.

​Dari Pasukan Elit Gurkha Menuju Rekor Dunia 14 Peaks

Nirmal Purja lahir di Nepal dan tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi Pegunungan Himalaya serta budaya Gurkha yang disiplin.

Sebelum menekuni dunia pendakian secara profesional, ia membangun karier militer sebagai anggota pasukan Gurkha. Ia berhasil menembus satuan militer elit Special Boat Service (SBS) Inggris.

Setelah memutuskan pensiun dari militer, Purja memilih mendedikasikan seluruh hidupnya di kawasan pegunungan tinggi karena ia memahami gunung sebagai rumah utama yang selalu ia hormati.

​Nama Nirmal Purja mengguncang dunia internasional pada tahun 2019 melalui ekspedisi bertajuk Project Possible. Ia menaklukkan 14 puncak gunung berorientasi eight-thousander (ketinggian di atas 8.000 meter di atas permukaan laut) hanya dalam kurun waktu 189 hari.

Perjalanan epik tersebut meruntuhkan anggapan ketidakmungkinan dalam alpinisme dan terekam dalam film dokumenter Netflix berjudul 14 Peaks: Nothing Is Impossible.

​”Ini bukan tentang saya. Ini tentang tim, strategi, dan tidak pernah menyerah,” ungkap Purja dalam sebuah pesan filosofis perjalanannya.

Karakter Kepemimpinan dan Misi Terakhir di Broad Peak

​Di luar rekor pendakian, komunitas alpinisme mengagumi Purja karena kepeduliannya terhadap keselamatan sesama pendaki. Ia berulang kali menghentikan misi pendakian pribadinya demi memimpin evakuasi, membagikan tabung oksigen, serta mendampingi pendaki lain yang kritis di death zone.

Baginya, keselamatan nyawa manusia selalu berada di atas ambisi pribadi dalam mencapai puncak gunung. ​Pada ekspedisi terakhirnya di Broad Peak (8.051 mdpl), Purja memimpin tim internasional untuk menyelesaikan misi mendaki seluruh puncak 8.000 meter dua kali tanpa oksigen tambahan.

Sebelum tragedi longsor salju melanda jalur pendakiannya, Purja sempat membagikan prinsip hidupnya mengenai batas kemampuan manusia dan rasa hormat terhadap alam.

​”Kami datang bukan untuk menaklukkan gunung, tapi untuk menguji batas diri dan kembali dengan selamat,” tulis Purja sebelum pendakian tersebut.

​Prinsip tersebut ia pertegas kembali dalam unggahan media sosial beberapa hari sebelum musibah terjadi. “Saya tidak pernah meremehkan satu gunung pun. Tidak satu pun,” tegasnya.

Purja selalu mengingatkan puncak hanyalah bonus, sedangkan keberhasilan sejati seorang pendaki adalah berhasil pulang ke rumah dengan selamat. (*)

Artikel Terkait