Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Dinas Kebudayaan NTB Upayakan Restorasi Cagar Budaya
Mataram (NTBSatu) – Kebakaran hebat melanda kawasan Rumah Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah pada Sabtu, 22 Agustus 2026, malam.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) bergerak cepat melakukan penanganan terhadap warga yang terdampak musibah tersebut.
Berdasarkan data sementara Dinas Sosial (Dinsos) NTB, sebanyak 120 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 320 jiwa terdampak akibat kebakaran ini. Musibah ini merusak sedikitnya 89 rumah adat Sasak serta sekitar 30 unit rumah warga di luar kawasan rumah adat.
Menanggapi musibah ini, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia mengatakan, musibah ini menjadi duka bersama, khususnya bagi insan kebudayaan di NTB.
“Tentu ini menjadi musibah buat kita semua, terutama bagi kita yang bergerak di bidang kebudayaan. Tentu merasa prihatin karena Dusun Sade yang sudah dikenal secara internasional ini mengalami musibah,” ujar Ihwan, Minggu, 23 Agustus 2026.
Ia menambahkan, dampak kebakaran ini sangat berisiko mengancam kelestarian warisan budaya lokal. Berbagai Benda Cagar Budaya (BCB) dan manuskrip bersejarah seperti naskah lontar, keris, pedang, peninggalan gending, gamelan, hingga peralatan tenun tradisional ikut terdampak dan terancam hilang.
Fokus Tanggap Darurat dan Rencana Restorasi
Menurut Ihwan, langkah terdekat yang sedang berjalan adalah penanganan tanggap darurat bagi para korban selamat. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Selanjutnya, Dinas Kebudayaan NTB akan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah NTB untuk mengidentifikasi serta melakukan restorasi terhadap benda-benda sejarah yang masih memungkinkan untuk diselamatkan, terutama yang berbahan dasar logam atau besi seperti keris dan pedang.
“Untuk benda berbahan besi seperti keris, tentu ada ahlinya. Nanti kita bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan NTB untuk melakukan restorasi jika masih ada barang yang bisa diperbaiki,” jelasnya.
Namun, masyarakat menghadapi proses pemulihan yang jauh lebih sulit untuk naskah lontar, manuskrip kuno, dan kain tenun lama yang terbakar.
Dorong Sinergi Pemulihan Ekosistem Kebudayaan
Dusun Sade bukan hanya destinasi wisata, melainkan ekosistem ekonomi berbasis kebudayaan yang menopang kehidupan masyarakat setempat.
Oleh karena itu, Ihwan mengajak semua pihak, termasuk insan media dan pemerintah daerah hingga pusat, untuk berkolaborasi mengembalikan fungsi Sade seperti semula.
“Perlu usaha bersama dari Pemprov NTB, Pemerintah Pusat, Pemkab Lombok Tengah, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat untuk berkolaborasi membangun kembali Dusun Sade. Harapannya, Sade bisa kembali eksis sebagai salah satu pusat pemajuan kebudayaan dan daya tarik wisata unggulan di NTB,” tutup Ihwan. (*)




