Mataram (NTBSatu) – Ketegangan sempat mewarnai arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah kontingen Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kota Bima melayangkan protes keras di depan kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB pada Jumat, 17 Juli 2026.
Protes yang sempat memicu aksi saling dorong tersebut berlangsung akibat adanya dugaan manipulasi dan perubahan hasil penilaian juara dalam pertandingan. Ketua Umum KONI NTB, Mori Hanafi, terlihat berusaha meredam ketegangan di depan kantornya.
“Abang tidak boleh marah-marah ke KONI seolah-olah KONI yang melakukan kecurangan,” ujarnya, mengutip akun Facebook Rizal Sayaka pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Sebelumnya, kontingen Kota Bima mendatangi kantor KONI NTB untuk meminta kejelasan. Perwakilan kontingen menyatakan berdasarkan pengumuman awal, Kota Bima meraih posisi kedua setelah mencatatkan waktu terbaik.
Namun, saat pengumuman resmi keluar, posisi mereka merosot ke urutan ketiga dan hanya mendapat medali perunggu. Sebaliknya, kontingen lain yang awalnya tidak masuk daftar juara, tiba-tiba meraih medali perak.
Massa yang kecewa mencoba merangsek masuk ke dalam gedung untuk mencari pengurus cabor PDBI NTB. Situasi di depan pintu masuk sempat ricuh oleh teriakan protes para atlet dan ofisial sebelum akhirnya redam karena pihak keamanan dan pengurus KONI.
KONI Menunggu Laporan Resmi
Mori Hanafi menegaskan, KONI NTB memegang teguh asas profesionalitas dan tidak memiliki kepentingan apa pun dalam penilaian setiap cabor. Ia meminta seluruh pihak memahami setiap cabor memiliki independensi tersendiri dalam memutuskan perolehan nilai.
Mori meminta kontingen yang merasa rugi untuk segera menyusun poin keberatan mereka ke dalam sebuah dokumen formal. KONI NTB memerlukan dasar hukum yang kuat sebelum mengambil tindakan lebih lanjut terhadap pengurus cabor yang bersangkutan.
“Tolong dibuat tertulis, karena ini bahan dasar kami untuk memanggil bidang pertandingan dan dewan juri,” tegasnya.
Mekanisme Arbitrase Porprov
Mori berjanji akan langsung memanggil panitia bidang pertandingan, tim keabsahan, serta dewan juri cabor PDBI setelah menerima laporan tertulis tersebut.
Peristiwa sengketa serupa juga pernah berlangsung pada Porprov 2023 yang melibatkan Kota Mataram dan Lombok Barat. Saat itu, KONI berhasil menyelesaikannya melalui mekanisme penyandingan data yang transparan.
Ia juga menegaskan, KONI akan menganulir hasil yang ada jika proses peninjauan ulang dan sidang arbitrase membuktikan adanya kesalahan prosedur dan kecurangan sengaja dalam penilaian.
“Kalau terbukti ada kesalahan atau kecurangan, kita akan batalkan hasil itu,” tegas Mori.
Mori meminta seluruh kontingen dan atlet tetap tenang dan menahan diri agar tidak mengganggu psikologis atlet lain yang masih berlaga. Ia memastikan akan menyelesaikan sengketa nilai cabor drum band secara transparan demi menjaga marwah Porprov NTB. (*)




