Sertifikasi HAKI Empat Motif Tenun Perkuat Identitas Khas Sumbawa Barat
Sumbawa Barat (NTBSatu) — Pengrajin lokal terus memperkuat perlindungan karya seni tradisi Sumbawa Barat melalui jalur legalitas hukum. Langkah mandiri ini membuktikan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian warisan budaya khas Sumbawa Barat.
Penenun asal Lingkungan Batu Ble mendaftarkan empat motif tenun ciptaannya secara resmi. Hak kekayaan intelektual tersebut melindungi aset budaya lokal dari ancaman klaim pihak asing.
Penenun Lokal, Nurhasanah menegaskan pentingnya legalitas hukum demi melindungi seluruh karya seni tradisi ini. Empat karya tersebut meliputi motif Ani Bagarus Lima, Kemang Tonyong, Pusuk Kele, dan Bintang Balu.
“Pencatatan legalitas HAKI ini menjadi garansi resmi untuk menjaga keaslian warisan leluhur Sumbawa Barat agar tidak punah menembus pasar global,” kata Nurhasanah kepada NTBSatu, Jumat, 7 Agustus 2026.
Permintaan kain tenun saat ini mengalami peningkatan drastis menjelang perayaan Hari Lahir Kabupaten Sumbawa Barat. Pemerintah daerah berencana menggelar peragaan busana megah untuk memamerkan keindahan karya kriya lokal tersebut.
Kesibukan di rumah produksi semakin meningkat demi memenuhi target busana para peserta fashion show. Nurhasanah menjelaskan durasi pembuatan satu helai kain yang memakan waktu cukup panjang.
“Tahapan rumit ini menentukan kualitas akhir lembaran kain tenun sehingga memakan waktu pengerjaan hingga satu minggu penuh,” ujar Nurhasanah.
Pekerjaan Berbasis Pesanan
Usaha kerajinan ini menerapkan sistem pengerjaan berbasis pesanan khusus dari para pembeli. Penenun memberi kebebasan bagi para pemesan untuk menentukan kombinasi warna favorit mereka.
Konsumen kemudian menerima produk akhir dalam bentuk lembaran kain tenun yang halus dan berkualitas. Nurhasanah memaparkan konsep perpaduan warna modern tanpa mengabaikan pakem nilai budaya asli.
“Masyarakat bisa memadukan motif tradisi dengan tren warna modern tanpa merusak nilai estetika serta keaslian makna budaya,” tutur Nurhasanah.
Kualitas kain tenun buatan tangan ini berhasil memikat banyak penggemar busana etnik. Pelanggan setia selanjutnya berdatangan dari berbagai wilayah luar daerah seperti Kota Mataram.
Pengrajin lokal mampu menghasilkan omzet lumayan melalui pemasaran produk kain bernilai seni tinggi ini. Nurhasanah mengungkapkan patokan harga resmi untuk satu set karya tenun eksklusif tersebut.
“Karya otentik tenun Taliwang ini mampu menembus pasar kelas atas dengan harga satu juta rupiah per set,” pungkas Nurhasanah. (*)




