Lombok TimurPariwisata

Sopir Lokal Tolak Taksi Online Jemput Wisatawan di Tetebatu

Lombok Timur (NTBSatu) – Persaingan jasa transportasi mulai memanas di kawasan desa wisata Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Komunitas sopir lokal menolak taksi online menjemput wisatawan di kawasan tersebut, karena khawatir kehilangan sumber pendapatan dari aktivitas pariwisata.

Humas Himpunan Pengusaha dan Pekerja Jasa Wisata (HIPPJATA) Kawasan Rinjani Selatan, Kusma Adnan alias Uncle Kuz mengatakan, sopir lokal telah menyediakan layanan transportasi di sejumlah destinasi wisata Tetebatu.

Ia berharap, wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut menggunakan jasa sopir setempat. Menurutnya, langkah itu penting agar perputaran ekonomi pariwisata turut menghidupi masyarakat lokal.

IKLAN

“Kami berharap taksi online cukup mengantar tamu sampai ke Tetebatu. Untuk perjalanan keluar dari kawasan wisata, biarkan sopir lokal yang melayani,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.

Ia menilai, kehadiran taksi online untuk menjemput wisatawan berpotensi mengurangi kesempatan sopir lokal memperoleh penumpang. Padahal, jasa transportasi menjadi salah satu sumber penghasilan mereka dari sektor pariwisata.

“Kalau semua tamu dijemput kendaraan dari luar, teman-teman di sini hanya bisa melihat aktivitas wisata tanpa menikmati hasilnya. Kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi dari pekerjaan ini,” ujarnya.

IKLAN

Uncle Kuz menyebut, sekitar 40 sopir tergabung dalam komunitas driver yang beroperasi di kawasan Tetebatu. Para anggota komunitas tersebut berasal dari Tetebatu dan enam desa wisata di sekitarnya.

Enam desa itu meliputi Kembang Kuning, Tetebatu Selatan, Kotaraja, Loyok, Pringgajurang, dan Montong Gading. Sebelum membentuk komunitas, para sopir telah lama menjadikan Tetebatu sebagai tempat mangkal.

“Karena sejak dulu teman-teman beraktivitas dan mencari penumpang di Tetebatu, akhirnya kami menyatukan mereka dalam satu komunitas,” jelasnya.

Bersaing dengan Tarif Online

Uncle Kuz mengakui, tarif taksi online lebih rendah dibandingkan tarif yang ditawarkan sopir lokal. Perbedaan harga tersebut membuat sebagian wisatawan, terutama tamu hotel, memilih menggunakan layanan transportasi online.

Kondisi itu mendorong komunitas sopir lokal membahas langkah untuk menghadapi persaingan tarif. Salah satu persoalan yang mereka hadapi ialah menyesuaikan harga tanpa mengorbankan penghasilan pengemudi.

“Banyak tamu hotel memilih taksi online karena harganya lebih murah. Kami sedang mencari cara supaya sopir lokal juga bisa memberikan layanan dengan tarif yang lebih bersaing,” katanya.

Namun, ia menyebut penyesuaian tarif bukan perkara mudah. Sopir lokal harus mempertimbangkan jarak perjalanan dan biaya operasional agar layanan tetap memberikan keuntungan.

“Kalau kami mematok harga seperti taksi online, hasilnya belum tentu sebanding dengan jarak yang ditempuh. Kami harus mencari tarif yang tetap terjangkau bagi wisatawan, tetapi tidak membuat sopir lokal merugi,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait