Kota MataramPemerintahan

Remaja Bawa Sajam Viral, Pemkot Mataram Dorong Kaling dan RT Awasi Pergaulan

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mendorong pengawasan terhadap pergaulan anak dan remaja sampai tingkat lingkungan. Hal ini menyusul aksi konvoi sejumlah remaja membawa Senjata Tajam (Sajam) yang videonya viral di media sosial.

Wakil Wali Kota Mataram TGH. Mujiburrahman mengajak keluarga, sekolah, tokoh agama hingga perangkat lingkungan ikut mengambil peran mencegah remaja terjerumus dalam pergaulan negatif.

Ia menyebut, keluarga sebagai benteng pertama untuk mengetahui aktivitas dan pergaulan anak, terutama mereka yang masih berusia sekolah.

IKLAN

“Peran orang tua sangat penting untuk memonitor pergaulan putra-putrinya, memonitor keberadaannya, dengan siapa dia berteman dan bergaul. Di era sekarang tidak boleh abai, karena salah sedikit dalam pergaulan bisa berakibat fatal,” ujar Mujiburrahman, Senin, 14 September 2026.

Orang tua, kata dia, perlu mengenal teman-teman anak serta mengetahui aktivitas mereka ketika berada di luar rumah. Perhatian semacam itu penting agar perubahan perilaku atau pengaruh lingkungan negatif bisa terdeteksi lebih awal.

Mujiburrahman juga mengajak tokoh agama memberikan edukasi kepada remaja melalui pengajian dan forum keagamaan. Pendekatan tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran remaja agar tidak mudah mengikuti ajakan yang berujung pada tindakan negatif.

IKLAN

Kaling dan RT Harus Aktif

Pengawasan juga perlu berjalan sampai tingkat RT dan lingkungan. Mujiburrahman meminta Kepala Lingkungan (Kaling) bersama Ketua RT mengenali anak-anak yang mulai terlibat dalam kelompok pergaulan bermasalah.

Kaling dan RT bahkan perlu turun langsung menemui warga jika menemukan tanda-tanda tersebut.

“Kita minta Kaling berkoordinasi dengan RT, kalau perlu secara door to door mengimbau dan mendeteksi jika ada anak-anak di lingkungan rumah yang terindikasi masuk kelompok pergaulan tidak baik. Ini butuh kerja lebih keras, intensif, dan to the point,” tegasnya.

Ia berharap, persoalan bisa terpantau sebelum berkembang menjadi aksi yang mengganggu ketenteraman warga. Para remaja juga harus lebih selektif memilih lingkungan pertemanan.

“Tidak ada untungnya, malah rugi. Tidak ada keterampilan atau hal positif yang mereka dapat. Kami imbau para remaja, khususnya yang masih usia sekolah, untuk menghindari hal-hal tersebut demi masa depan yang lebih baik,” katanya.

Pemkot Mataram juga berkoordinasi dengan kepolisian dan Satpol PP untuk melakukan patroli serta razia rutin pada sejumlah titik yang kerap menjadi tempat berkumpulnya kelompok remaja.

Selain itu, sekolah turut berperan mengenali siswa yang mulai terpengaruh pergaulan negatif.

Mujiburrahman menyebut, pendekatan persuasif dan edukasi tetap menjadi pilihan pertama, terutama bagi siswa yang hanya ikut-ikutan atau terbawa provokasi teman. Namun, sekolah perlu mengambil sikap lebih tegas jika pelanggaran terus berulang.

“Sekolah harus mendeteksi. Untuk anak-anak yang hanya ikut-ikutan karena provokasi, kita berikan nasihat dan edukasi persuasif. Namun, harus ada ultimatum atau teguran keras, seperti ancaman skorsing, agar mereka tidak mengulangi tindakan yang mencoreng nama baik sekolah,” pungkasnya.

Polisi Amankan 24 Remaja

Sebelumnya, video konvoi sejumlah remaja membawa sajam beredar luas melalui media sosial. Dalam rekaman tersebut, para remaja terlihat mengendarai sepeda motor sembari membawa celurit dan parang berukuran besar.

Polresta Mataram kemudian mengamankan 24 remaja yang diduga terlibat. Sebagian besar masih berstatus pelajar SMP dan berasal dari Kota Mataram serta Lombok Barat.

Kasatreskrim Polresta Mataram, AKP I Made Dharma Yulia Putra mengatakan, polisi masih memeriksa para remaja tersebut untuk mengetahui peran dan latar belakang masing-masing.

“Mereka memang berkumpul di beberapa tempat dan melakukan kegiatan yang mengganggu keamanan. Mereka melakukannya dengan cara bersenang-senang,” ujar Dharma, Minggu, 13 September 2026.

Pemeriksaan juga mengungkap seorang remaja pernah tersangkut perkara narkotika. Dharma belum menjelaskan perkara yang pernah melibatkan remaja tersebut. “Satu orang,” tegasnya.

Beberapa remaja lainnya mengaku mengonsumsi minuman beralkohol sebelum mengikuti konvoi. Polisi menyita satu celurit dan satu samurai yang diduga digunakan dalam aksi tersebut. Para remaja mengaku memperoleh senjata itu melalui toko daring dengan harga sekitar Rp135 ribu hingga Rp150 ribu.

Dari 24 remaja yang diamankan, lima orang kedapatan membawa sajam. Kelimanya akan diproses menggunakan Pasal 307 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

“(24 orang) masih di Polresta, masih dimintai keterangan. Untuk yang bawa sajam kami akan proses sesuai hukum yang berlaku,” kata Dharma.

Sementara 19 remaja lainnya tidak langsung menjalani proses pidana. Polisi menyiapkan penyelesaian melalui pendekatan di luar peradilan dengan melibatkan orang tua, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), sekolah, dan Pemkot Mataram. Ada pun jadwal pertemuan bersama orang tua dan pihak terkait Selasa, 15 September 2026.

Polisi juga meningkatkan patroli pada sejumlah ruas jalan yang kerap menjadi tempat berkumpul dan konvoi remaja.

“Kami tetap melakukan patroli dan berkoordinasi dengan tim URC Jatanras Polda NTB. Serta berkolaborasi juga dengan Polsek,” tandasnya. (*)

Artikel Terkait