Lombok Timur

Petani Kakao Lombok Timur Keluhkan Harga Anjlok hingga Rp25 Ribu, Minta Hilirisasi

Lombok Timur (NTBSatu)Petani kakao di Lombok Timur menilai hilirisasi menjadi solusi paling mendesak untuk meningkatkan nilai jual hasil panen sekaligus mengurangi ketergantungan pada tengkulak. Selama ini, petani hanya menjual biji kakao kering sehingga tidak menikmati nilai tambah dari produk olahan.

Petani kakao asal Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, M. Sanusi Ardi Wiranata, mengatakan persoalan terbesar yang mereka hadapi bukan hanya produksi, tetapi juga fluktuasi harga dan lemahnya akses pemasaran.

Menurutnya, harga kakao sering berubah drastis. Dalam kondisi tertentu, harga dapat turun hingga kisaran Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram, jauh di bawah harga ketika pasar sedang membaik.

IKLAN

“Tantangan terbesar kami itu harga yang tidak menentu. Kadang naik, kadang turun. Kalau turun, bisa sampai Rp25 ribu atau Rp30 ribu per kilogram. Itu sangat anjlok bagi petani,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 19 Juli 2026.

Selain harga, petani juga bergantung pada tengkulak lokal karena belum memiliki akses pemasaran langsung ke luar daerah, apalagi ke pasar ekspor. Kondisi tersebut membuat petani kecil sulit memperoleh harga yang lebih kompetitif.

Sanusi menjelaskan, sebagian besar petani kakao di Lombok Timur hanya mengelola lahan berukuran 10 hingga 50 are. Luas lahan tersebut membuat hasil panen setiap petani belum mampu memenuhi permintaan pembeli dalam jumlah besar.

IKLAN

Buyer biasanya mencari pasokan satu sampai dua ton. Sementara petani di sini lahannya kecil-kecil, jadi hasil panennya tidak cukup untuk memenuhi permintaan sebesar itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, kualitas hasil panen juga dipengaruhi cuaca. Biji kakao yang rusak akibat proses pengeringan maupun kondisi iklim turut menurunkan daya saing produk.

Di sisi lain, Sanusi menilai pemerintah belum memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kakao. Selama ini, bantuan yang diterima petani umumnya hanya berupa bibit yang diberikan secara terbatas.

“Selama ini pemerintah memang menyediakan bibit, tetapi program yang benar-benar fokus mengembangkan kakao di Lombok Timur menurut saya belum ada. Padahal potensinya sangat besar,” katanya.

Komoditas dengan Peluang Besar

Menurut Sanusi, kakao memiliki peluang pasar yang menjanjikan, bahkan menjadi salah satu komoditas unggulan setelah kopi. Pengalaman menerima wisatawan mancanegara di kawasan agrowisata yang ia kelola memperlihatkan tingginya minat terhadap kakao lokal.

“Banyak wisatawan asing yang datang bilang kakao kita sangat bagus. Sayangnya belum dikelola dengan baik. Di luar negeri, produk cokelat bisa bernilai sangat tinggi, sementara petani di sini hanya menjual biji kakao dengan harga puluhan ribu rupiah,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan industri pengolahan kakao di NTB agar petani tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Menurutnya, satu biji kakao dapat menghasilkan berbagai produk turunan, mulai dari cokelat, lemak kakao, hingga produk olahan lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Sanusi juga menilai, rencana perluasan areal tanam kakao di Lombok Timur harus diikuti pembangunan industri pengolahan. Tanpa hilirisasi, peningkatan produksi hanya akan menambah pasokan biji kakao tanpa meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kalau ingin memberdayakan petani, jangan berhenti pada perluasan lahan. Harus ada pabrik atau industri yang mengolah kakao di daerah supaya nilai tambahnya dinikmati masyarakat sendiri,” tegasnya.

Saat ini, sebagian besar petani di Desa Bebidas memanen kakao setiap pekan. Meski belum menjadi sumber pendapatan utama, hasil penjualan kakao tetap menjadi penopang ekonomi keluarga.

Sanusi berharap, pemerintah mulai membangun ekosistem industri kakao dari hulu hingga hilir, agar potensi komoditas tersebut benar-benar memberi manfaat bagi petani di Lombok Timur. (*)

Artikel Terkait