Lombok Tengah

Pemerintah Pusat Turun Tangan Bantu Rekonstruksi Rumah Adat Sade

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memastikan pembangunan kembali Desa Adat Sade, usai insiden kebakaran yang melanda kawasan budaya tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026, malam.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia mengatakan, pemerintah mulai membahas rencana pembangunan bersama Pemerintah Pusat dan kementerian terkait.

Pemerintah ingin mengembalikan wajah Sade sekaligus mempertahankan bentuk serta karakter arsitektur tradisional Sasak.

IKLAN

Menurut dia, perhatian Pemerintah Pusat menjadi dorongan penting bagi pemulihan Rumah Adat Sade. Koordinasi terus berjalan, termasuk menghitung kebutuhan anggaran untuk mengembalikan rumah-rumah adat yang terdampak kebakaran.

“Kalau misalnya satu bangunan membutuhkan sekitar Rp50 juta, tinggal dikalikan dengan jumlah bangunan yang harus kita bangun. Tentu kebutuhannya bisa mencapai miliaran rupiah. Ini yang masih kita obrolkan bersama pemerintah, termasuk dukungan dari Pemerintah Pusat,” ujarnya, Minggu, 23 Agustus 2026.

Ahmad menegaskan angka tersebut belum menjadi nilai anggaran resmi. Pemerintah masih menghitung seluruh kebutuhan, mulai rumah adat, penataan lingkungan, hingga fasilitas keselamatan.

IKLAN

“Jadi kita belum bisa bicara angka final. Semua masih dalam pembahasan dan perhitungan. Yang jelas, membangun kembali Sade dari awal membutuhkan anggaran cukup besar,” katanya.

Jadi Destinasi Favorit Wisatawan

Desa Adat Sade menjadi salah satu tujuan wisata utama Lombok. Rumah adat, tradisi, kerajinan, serta kehidupan masyarakat Sasak menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Berdasarkan Data Dinas Pariwisata Lombok Tengah, pada hari biasa, kunjungan mencapai 200 hingga 300 orang per hari. Jumlah itu bisa melonjak hingga 1.000 orang atau lebih saat libur panjang, libur nasional, maupun event besar berlangsung di Lombok.

Sade memiliki luas sekitar tiga hektare dan menjadi tempat tinggal sekitar 152 keluarga. Rumah-rumah adat dengan atap alang-alang serta konstruksi tradisional Sasak menjadi ciri khas yang langsung terlihat saat wisatawan memasuki kawasan tersebut.

Kampung asli Suku Sasak ini memiliki sejarah panjang. Tradisi dan bentuk arsitektur leluhur masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sade hingga sekarang.

Sementara itu, Ketua Umum Majelis Adat Sasak, H. Lalu Sajim Sastrawan, meminta pemerintah menyusun standar operasional mitigasi khusus bagi kawasan cagar budaya. Warga adat juga perlu mendapat pelatihan agar mampu mengambil tindakan cepat ketika muncul potensi kebakaran.

“Jangan sampai kita baru bergerak setelah terjadi kebakaran. Mitigasi harus disiapkan sejak awal, terutama untuk kawasan adat yang memiliki nilai sejarah dan budaya,” ujarnya.

Menurut Sajim, perlindungan Desa Adat Sade tidak cukup hanya mengandalkan bantuan setelah bencana.

“Pemerintah perlu membangun sistem perlindungan jangka panjang agar kawasan adat tetap terjaga sekaligus aman bagi masyarakat dan wisatawan,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait