Penutupan 25 Ritel Modern di Loteng Tuai Pro-Kontra, Pedagang Pasar Mengaku Tak Terdampak
Lombok Tengah (NTBSatu) – Penutupan puluhan ritel modern di Lombok Tengah (Loteng), memunculkan beragam respons. Di tengah alasan pemerintah soal perlindungan pasar rakyat dan pelanggaran aturan jarak, sejumlah pedagang justru mengaku keberadaan Alfamart dan Indomaret tidak terlalu memengaruhi pendapatan mereka.
Salah satunya di kawasan Pasar Renteng, Praya. Pemilik toko grosir di sekitar lokasi ritel modern yang pemerintah tutup, Catur Aditiyawati menilai, persaingan hanya berdasarkan perbedaan segmen.
“Kalau saya pribadi enggak terpengaruh. Mereka kan ritel, kalau kita grosir. Harganya jauh,” ujar salah satu pemilik toko grosir kepada NTBSatu, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia mencontohkan, harga gula di tokonya bisa lebih murah daripada ritel modern. Menurutnya, pelanggan grosir tetap memiliki pasar sendiri meski Alfamart atau Indomaret berdiri di dekat pasar tradisional.
“Misalnya gula di saya Rp16.900, kalau di Alfamart bisa Rp19 ribu. Jadi beda,” katanya.
Ia juga menilai, keberadaan ritel modern justru lebih banyak masyarakat manfaatkan untuk layanan digital, seperti top up dompet elektronik daripada membeli kebutuhan pokok.
“Kalau minyak sama sembako itu cuma buat memancing orang masuk. Yang sering dicari itu top up dana, begitu,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan, keputusan penutupan ritel modern yang menurutnya mendadak dan berdampak pada pekerja. Ia bahkan mengaitkan penutupan tersebut dengan kemunculan Koperasi Desa Merah Putih di sejumlah wilayah.
“Takutnya nanti malah monopoli. Kalau orang lain enggak boleh jualan di sekitar koperasi itu bagaimana?” katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Loteng menutup sementara 25 ritel modern yang terdiri dari 18 Alfamart dan 7 Indomaret. Penutupan tersebut karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Swalayan.
Salah satu poin aturan tersebut mengatur jarak minimal toko swalayan dengan pasar tradisional sejauh satu kilometer.
Nasib Pekerja Ritel Modern
Di sisi lain, kebijakan ini juga berdampak langsung terhadap pekerja ritel modern. Zaen Pratama, mantan pegawai Indomaret di Renteng, mengaku kehilangan pekerjaan setelah gerainya ditutup.
Ia telah bekerja hampir tujuh tahun di perusahaan tersebut. “Dampaknya ya pasti kehilangan pekerjaan. Sekarang enggak ada tempat kerja lagi, terpaksa di rumah,” ujarnya.
Menurut Zaen, hingga kini manajemen masih melakukan negosiasi dengan pemerintah daerah agar gerai dapat kembali buka lebih cepat. Sementara itu, para pegawai hanya bisa menunggu keputusan perusahaan.
“Kita sebenarnya mau aksi ke kantor bupati, tetapi dicekal atasan. Katanya tunggu surat perintah dulu,” katanya.
Ia mengaku, penutupan ritel modern bukan hanya berdampak kepadanya saja, tetapi juga keluarga para pekerja lain yang menggantungkan penghasilannya.
“Sedih juga. Biasanya kerja, sekarang di rumah. Yang paling terasa ya ke keluarga,” ucapnya.
Zaen juga mempertanyakan alasan penutupan yang baru dilakukan sekarang, padahal toko-toko tersebut telah lama berdiri dan beroperasi. “Kalau memang masalah regulasi, kenapa dari awal dikasih izin?” katanya. (Caca)




