Lombok TengahPolitik

Dewan Sebut Kebakaran Sade Jadi Peringatan Keras Evaluasi Mitigasi Pariwisata

Mataram (NTBSatu) – Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lombok Tengah, Ahmad Samsul Hadi menilai, insiden kebakaran kawasan pemukiman tradisional Rumah Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, sebagai peringatan keras bagi tata kelola pariwisata daerah.

Peristiwa tersebut menegaskan pentingnya penerapan sistem mitigasi bencana yang matang di destinasi wisata berkonsep warisan budaya.

“Kejadian kemarin itu seharusnya itu menjadi satu peringatan keras bagi kita bahwa dunia pariwisata itu tidak melulu soal barang lama. Tidak melulu soal ketradisionan. Tidak melulu soal yang eyecatching,” ujarnya dalam siniar bersama NTBSatu pada Jumat, 4 September 2026.

IKLAN

Kebutuhan Infrastruktur Modern

Ahmad menekankan penataan destinasi pariwisata budaya harus menyeimbangkan aspek kelestarian tradisi dengan standar keandalan penanggulangan bencana.

Menurutnya, keaslian wujud rumah adat tetap memerlukan dukungan infrastruktur penunjang keamanan yang memadai. Misalnya seperti ketersediaan hidran pemadam kebakaran dan penataan jaringan listrik.

Meskipun nilai sejarah dan keaslian bangunan sulit tergantikan akibat musibah tersebut, pemerintah daerah bersama masyarakat harus bergerak cepat merencanakan proses penataan serta pembangunan kembali kawasan tersebut.

IKLAN

“Uang bisa dicari, tetapi keinginan kita dengan kerendahan hati kita untuk mulai menata ulang itu yang penting. Pemerintah daerah itu kan ada untuk ngurus rakyatnya,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi penanganan pascabencana di Desa Adat Sade tidak dapat mengabaikan aspek kelengkapan hidran, instalasi kelistrikan yang aman, serta aksesibilitas penanganan darurat agar risiko serupa tidak terulang pada masa mendatang.

Pentingnya Kolaborasi Rekonstruksi

Guna mempercepat proses pemulihan, DPRD Lombok Tengah mendorong skema kolaborasi terpadu antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, pemerintah provinsi, kementerian terkait, hingga pemangku adat setempat.

Ahmad menilai, pendekatan gotong royong dan kesepakatan bersama kunci utama dalam mengembalikan fungsi Desa Adat Sade sebagai etalase pariwisata daerah.

“Tetapi adalah soal menjaga dan merawat itu yang paling pokok. Kalau besok dibangun lagi tidak dijaga, bagaimana? Berpotensi berbahaya lagi itu,” tuturnya.

Ahmad berharap, seluruh pihak dapat bekerja sama secara harmonis dalam menata lingkungan kawasan pariwisata di wilayah selatan Lombok Tengah. Penataan tersebut mencakup penghijauan kawasan, penyiapan fasilitas pendukung dasar.

Selain itu, ia juga menegaskan perlunya penataan regulasi tata ruang agar aspek keamanan destinasi wisata selaras dengan kenyamanan wisatawan maupun warga lokal. (*)

Artikel Terkait