Pasokan Terlambat, Antrean BBM Berhari-hari Ganggu Aktivitas Warga Lombok Tengah
Lombok Tengah (NTBSatu) – Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Kabupaten Lombok Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Keterlambatan penyaluran BBM dari depot dan berkurangnya pasokan ke SPBU menjadi penyebab utama antrean yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Manajer SPBU Pertamina 54.835.11, I Nengah Karia Arsana, mengatakan pasokan BBM sebenarnya tidak berhenti. Namun, distribusi dari depot ke SPBU mengalami keterlambatan. Sehingga stok cepat habis di tengah tingginya permintaan masyarakat.
“Bukan langka, tetap ada pengiriman. Cuma kendalanya penyaluran dari depot ke SPBU terlambat,” katanya kepada NTBSatu, Rabu 5 Agustus 2026.
Selain terlambat, jumlah pasokan yang diterima SPBU juga sempat berkurang. Ia mencontohkan, permintaan sebanyak 24 kiloliter (KL) hanya dipenuhi 16 KL.
“Memang pernah terjadi seperti itu. Kami minta 24 KL, yang disalurkan hanya 16 KL,” ujarnya.
Menurutnya, antrean panjang mulai terlihat sejak awal pekan dan berlangsung sekitar tiga hingga empat hari terakhir. Hingga saat diwawancarai, stok Pertalite di SPBU tersebut bahkan masih kosong karena belum menerima pengiriman baru.
Aktivitas Warga Terganggu
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Warga harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan BBM, sementara sebagian lainnya kesulitan ketika kendaraan kehabisan bahan bakar di perjalanan.
Salah seorang warga sekaligus pedagang bensin eceran, Diah, menilai antrean panjang menyulitkan banyak kalangan, terutama masyarakat yang harus segera beraktivitas.
“Kasihan orang yang buru-buru. Anak sekolah juga kasihan kalau motornya mati di tengah jalan,” katanya.
Menurut Diah, warga yang tinggal jauh dari SPBU juga menghadapi kesulitan ketika kendaraan kehabisan BBM. Mereka harus mencari bensin eceran, sementara pasokan di tingkat pengecer juga terbatas.
“Mereka jalan jauh, dorong motornya kan kasian” ujarnya.
Ia berharap distribusi BBM segera kembali normal agar masyarakat tidak lagi kesulitan memperoleh bahan bakar.
Di tengah keterbatasan pasokan, pihak SPBU memilih memprioritaskan pengisian BBM bagi kendaraan yang telah mengantre. Mereka tidak melayani pengisian menggunakan jeriken untuk pengecer, meski telah memiliki barcode dan surat rekomendasi usaha mikro.
“Kalau sekarang kami tidak bisa dahulukan jeriken. Kasihan pengendara yang sudah antre berjam-jam,” ujar Karia.
Ia berharap distribusi BBM segera kembali normal sehingga antrean panjang dapat terurai dan pelayanan kepada masyarakat kembali berjalan seperti biasa.
“Harapan kami tentu agar kondisinya segera pulih seperti semula,” tutupnya.(*)




