Pascakebakaran Sade, Damkartan Loteng Soroti APAR hingga Akses Armada Pemadam
Lombok Tengah (NTBSatu) – Kesiapan menghadapi kebakaran di kawasan wisata Lombok Tengah masih perlu diperkuat. Mulai dari ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) hingga akses masuk bagi armada pemadam kebakaran.
Hal ini menjadi perhatian setelah kebakaran melanda Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Sabtu, 22 Agustus 2026 malam.
Kepala Damkartan Lombok Tengah, Supardan mengatakan, APAR sangat penting terutama di tempat wisata yang menggunakan material mudah terbakar seperti alang-alang. Menurutnya, perlengkapan tersebut dapat digunakan untuk penanganan awal sebelum api membesar.
“Banyak tempat wisata menggunakan bahan yang mudah terbakar, sehingga APAR ini sangat penting,” kata Supardan kepada NTBSatu, Senin 24 April 2026.
Ia menjelaskan, kampung Adat Sade, sebenarnya telah memiliki enam APAR. Alat tersebut berada di sejumlah titik yang strategis, termasuk di berugak sekenem yang berada di depan.
”Sebenarnya, paling tidak sudah ada 6 Apar di sana,” jelasnya.
Namun, setelah kebakaran yang melanda Sade pada Sabtu, 22 Agustus 2026 malam, Damkartan menilai masih ada hal lain yang perlu menjadi perhatian, terutama akses menuju lokasi.
Supardan mengatakan, akses jalan harus cukup memadai agar armada pemadam bisa bergerak cepat ketika terjadi kebakaran. Termasuk memperhatikan ukuran sejumlah fasilitas di pintu masuk kawasan wisata.
“Yang paling penting ke depannya akses jalannya untuk mobil dan lain-lain. Termasuk plang selamat datang itu harus tiga meter agar armada cepat masuk ke lokasi kejadian,” ujarnya.
Damkartan Soroti Standar Keselamatan
Supardan juga mengingatkan penerapan keselamatan kebakaran tidak hanya berlaku untuk desa wisata. Gedung pemerintahan, hotel, restoran, hingga tempat usaha lainnya juga harus memiliki perlengkapan keselamatan yang sesuai.
Menurutnya, APAR harus tersedia dan ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau. Pengelola juga harus memahami cara menggunakan peralatan tersebut ketika terjadi kebakaran.
“Semua bagian harus mengerti. Misalnya APAR, pemakaiannya seperti apa, harus tahu kontak siapa duluan,” katanya.
Selain APAR dan hydrant, pengelola tempat usaha juga perlu mempertimbangkan penggunaan smoke detector dan alat pendeteksi kebocoran gas. Sistem tersebut dapat membantu mengetahui potensi kebakaran sejak awal.
Supardan mengatakan, Damkartan juga telah melakukan sosialisasi bersama sejumlah pihak, termasuk dengan pengelola kawasan Mandalika melalui ITDC, terkait kesiapan keselamatan kebakaran, khususnya di restoran dan tempat usaha.
Ia menegaskan, standar keselamatan juga menjadi perhatian Damkartan ketika memberikan rekomendasi kepada pengelola hotel maupun usaha lainnya.
“Kalau misalnya ada hotel yang tidak memenuhi safety, saya sampai sekarang tidak memberikan rekomendasi. Karena memang harus memenuhi standar-standar itu,” tegasnya.
Pascakebakaran Sade, Supardan mengajak masyarakat dan pelaku usaha yang memiliki aktivitas berkaitan dengan api untuk meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, pencegahan harus bersama, bukan hanya mengandalkan petugas pemadam ketika api sudah membesar.
“Ini kita butuh kesadaran teman-teman, termasuk pelaku-pelaku usaha yang ada hubungannya dengan api untuk terus berusaha mengantisipasi itu,” pungkasnya.(*)




