Simbol Moderasi, Umat Hindu Lombok Tengah Ramaikan Pawai Taaruf MTQ NTB 2026
Mataram (NTBSatu) – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lombok Tengah, ikut memeriahkan iring-iringan Pawai Taaruf pembukaan MTQ XXXI NTB 2026.
Keberadaan mereka di tengah perhelatan keagamaan Islam ini merupakan potret nyata dari kokohnya moderasi beragama di bumi Lombok.
“Saudara kita PHDI Lombok Tengah ikut memeriahkan Pawai Ta’aruf MTQ,” tulis Facebook Sunarno Lombok pada Selasa, 9 Juni 2026.
Suasana di sepanjang jalur pawai pembukaan MTQ NTB 2026 tampak sangat meriah, dengan ribuan warga yang antusias menyaksikan sejak pagi hari.
Teriknya sinar matahari tidak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton yang menyemut di pinggir jalan utama.
Selain itu, tabuhan musik tradisional berpadu serasi dengan yel-yel kafilah, menciptakan atmosfer perayaan yang hangat dan penuh sukacita.
Simbol Moderasi Beragama
Dalam iring-iringan tersebut, perwakilan PHDI Lombok Tengah tampil memukau dengan mengenakan pakaian adat khas Bali-Lombok. Penampilan semakin pas saat memadukan warna putih dengan kain songket bermotif indah.
Di barisan depan, tampak sesosok penari yang mengenakan topeng pewayangan jenaka berhidung panjang dan berkumis tebal.
Selanjutnya, penari dengan jubah keemasan bermotif mega mendung tersebut bergerak lincah menyapa masyarakat dan tokoh daerah di panggung penghormatan.
Aksi jenaka namun sarat budaya dari penari topeng ini menarik perhatian besar para pejabat, tokoh agama, dan masyarakat umum.
Parade Tari Kebalikan yang Anggun
Di belakang penampilan topeng, puluhan penari mempersembahkan tarian tradisional dengan gerakan kipas berbulu putih yang anggun.
Mereka tampak mengenakan kebaya putih dan memadukannya dengan selendang kuning serta kain tenun ungu tua.
Formasi tarian yang kompak seolah menghidupkan jalanan kota, memperlihatkan kekayaan khazanah budaya Nusantara yang hidup rukun di Lombok Tengah.
Oleh karena itu, keikutsertaan PHDI Lombok Tengah dalam momentum pawai taaruf ini menegaskan, perbedaan keyakinan bukan pembatas untuk saling mendukung.
Namun hal tersebut sebagai harmoni yang memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan di masyarakat luas NTB. (*)




