Lombok Tengah

Stunting Lombok Tengah Turun dari 23,03 Persen dalam Lima Tahun

Lombok Tengah (NTBSatu) – Angka stunting di Lombok Tengah terus menunjukkan tren penurunan dalam lima tahun terakhir. Dari 23,03 persen pada 2021, prevalensi stunting kini turun menjadi 9,01 persen per April 2026.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Nasrullah mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil berbagai upaya pencegahan dan penanganan stunting yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Dari tahun 2021 memang progresnya cukup bagus. Dari akhir 2023 kita sudah menyentuh satu digit. Sekarang per April 2026 berada di angka 9,01 persen,” kata Nasrullah kepada NTBSatu.

IKLAN

Pada 2021, angka stunting di Lombok Tengah mencapai 23,03 persen atau setara dengan 21.938 anak. Angka tersebut berada di atas rata-rata NTB yang saat itu tercatat sebesar 19,23 persen.

Setahun kemudian, prevalensi stunting turun menjadi 20,81 persen. Penurunan semakin signifikan pada 2023 hingga mencapai 13,34 persen. Tren positif itu berlanjut hingga April 2026 dengan angka stunting berada di level 9,01 persen.

Nasrullah menjelaskan, Dinas Kesehatan menggunakan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) sebagai dasar intervensi. Data tersebut memuat identitas dan alamat sasaran secara rinci sehingga memudahkan petugas dalam melakukan penanganan.

IKLAN

Menurutnya, strategi pencegahan stunting mulai sejak usia remaja. Dinas Kesehatan memastikan remaja putri rutin mengonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia yang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan saat memasuki masa kehamilan.

“Ibu hamil yang sehat berawal dari remaja yang sehat. Karena itu, remaja putri kami pastikan mendapatkan tablet tambah darah, baik melalui sekolah maupun posyandu,” ujarnya.

Program tersebut menyasar siswi SMP, SMA, pondok pesantren, hingga remaja putri yang tidak lagi bersekolah.

Perkuat Layanan Kesehatan Ibu Hamil

Selain itu, Dinas Kesehatan juga memperkuat layanan kesehatan ibu hamil. Setiap ibu hamil sebaiknya menjalani pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, termasuk dua kali pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi ibu dan janin tetap sehat.

Perhatian khusus juga kepada ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK). Kelompok tersebut mendapat makanan tambahan karena berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah yang dapat memicu stunting.

“Semua ibu hamil KEK harus mendapatkan makanan tambahan. Kalau tidak diintervensi sejak awal, risikonya bisa melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah,” jelas Nasrullah.

Intervensi lainnya dilakukan melalui pemberian makanan tambahan bagi balita yang mengalami masalah gizi, penguatan program ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, serta memastikan seluruh anak memperoleh imunisasi sesuai jadwal.

Kendala Bagi Dinas Kesehatan

Meski angka stunting terus menurun, Nasrullah mengakui masih ada tantangan yang perlu perhatian lebih. Berdasarkan hasil pantauan, kasus stunting baru paling banyak muncul saat anak memasuki usia dua hingga tiga tahun.

Pada usia tersebut, anak mulai mengonsumsi berbagai jenis makanan di luar ASI. Pola asuh yang kurang tepat dan kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji maupun camilan menjadi salah satu faktor pemicu munculnya stunting baru.

“Yang menjadi tantangan kita adalah perilaku dan pola asuh di tingkat keluarga. Karena banyak kasus stunting baru muncul saat anak usia dua sampai tiga tahun,” katanya.

Selain pola asuh, pernikahan usia anak dan kondisi ekonomi keluarga juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting. Karena itu, Dinas Kesehatan terus menggencarkan edukasi melalui kelas ibu hamil, program Aksi Bergizi bagi remaja, serta berbagai kegiatan sosialisasi di masyarakat.

Nasrullah menegaskan, penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Menurutnya, seluruh pihak perlu terlibat karena persoalan stunting berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

“Stunting ini tugas kita bersama. Mari kita siapkan generasi masa depan yang sehat dan cerdas dengan memperbaiki gizi anak sejak dini agar tidak jatuh ke stunting,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait