Lombok Tengah

Rumah Ratusan Tahun Lenyap, Warga Sade Akan Bangun dari Awal

Lombok Tengah (NTBSatu) – Kebakaran melanda kawasan permukiman adat Desa Sade, Lombok Tengah pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api menyisakan pekerjaan besar bagi warga untuk membangun kembali rumah adat mereka.

‎Tokoh masyarakat Desa Sade, Talim alias Amaq Eva mengatakan, kebakaran tidak menghapus sejarah desa adat tersebut. ‎Menurutnya, warga akan mempertahankan bentuk rumah saat melakukan pembangunan kembali.

‎“Kalau untuk cerita atau sejarahnya itu akan tetap seperti itu. Tidak akan berubah,” kata Talim, Minggu, 23 Agustus 2026.

IKLAN

‎Ia menjelaskan, masyarakat Desa Sade memiliki aturan dalam mempertahankan jumlah rumah adat. Tradisi keluarga juga mengatur pewarisan rumah kepada anak laki-laki bungsu.

‎“Jadi makanya harus tetap 150 rumah bertahan,” ujarnya.

‎Rumah Adat Bukan Sekadar Bangunan

‎Talim mengatakan, masyarakat tidak bisa membangun rumah adat dengan bentuk sembarangan. Setiap bagian rumah memiliki nilai dan filosofi yang leluhur wariskan.

IKLAN

‎“Harus, harus sama. Karena bentuk bangunan ini merupakan peninggalan dari leluhur kami,” katanya.

‎Ia mencontohkan bentuk pintu rumah yang sengaja rendah pembuatannya. Menurutnya, bentuk tersebut mengajarkan penghuni untuk saling menghormati.

‎“Pintu rumah kami dibuat rendah. Karena itu filosofi kami supaya ketika keluar atau masuk saling menghormati,” ujarnya.

‎Selain bentuk rumah, masyarakat juga mempertahankan filosofi dari penamaan rumah. Talim menyebut istilah Bale Tani berkaitan dengan kehidupan pertanian masyarakat.

‎“Baletani itu sebagai lambang bahwa kita semuanya memang pertanian,” katanya.

‎Karena itu, warga tidak ingin proses pembangunan kembali menghilangkan karakter permukiman adat tersebut. “Jadi harus tetap dipertahankan. Tidak boleh diubah dari bentuknya,” tegasnya.

‎Api Hanguskan Rumah Ratusan Tahun

‎Kebakaran juga menghilangkan rumah-rumah yang telah bertahan selama beberapa generasi. Talim menyebut, sebagian rumah yang terbakar memiliki usia hingga ratusan tahun.

‎“Pasti sudah ratusan tahun rata- rata,” jawabnya ketika ditanya mengenai rumah berusia ratusan tahun.

‎Namun, warga tetap melakukan perawatan terhadap rumah adat secara berkala. Mereka mengganti bagian bangunan yang mulai rapuh.

‎Talim mengatakan, warga biasanya mengganti atap rumah sekitar tujuh tahun sekali. Mereka juga mengganti tiang apabila kondisinya sudah tidak kuat. ‎Kebakaran kali ini menjadi peristiwa paling parah yang pernah melanda kawasan tersebut.

‎“Pernah ada sebelumnya. Tapi tidak sebesar ini. Ini yang paling parah ini. Habis semua,” ujarnya.

‎Warga Ingin Bangun Kembali dari Nol

‎Setelah kebakaran, warga kini menghadapi pekerjaan besar untuk menghidupkan kembali kawasan adat tersebut. ‎Talim mengatakan, warga membutuhkan kerja sama untuk membangun kembali rumah-rumah yang terbakar.

‎“Kita harus mulai dari awal lagi. Tentunya harus butuh kerja sama,” katanya.

‎Menurut Talim, Desa Sade bukan hanya kawasan permukiman. Desa tersebut juga menjadi salah satu desa adat yang masih mempertahankan tradisi dan bentuk bangunan leluhur.

‎“Ini salah satu desa adat yang masih ada. Yang masih bertahan dan masih mempertahankan bentuk bangunan,” ujarnya.

‎Kebakaran juga berpotensi memukul aktivitas wisata yang selama ini tumbuh secara alami di Desa Sade. ‎Talim mengatakan, warga tidak pernah secara khusus mempromosikan Desa Sade sebagai kawasan wisata. Wisatawan datang secara bertahap sejak sekitar 1983.

‎“Memang dikunjungi oleh wisatawan. Kami tidak pernah merasa tersaingi oleh kampung lain,” katanya.

‎Kini, warga memilih fokus membangun kembali rumah sebelum memikirkan pengembangan kerajinan dan aktivitas wisata lainnya.

‎“Yang penting sekarang rumah dulu yang utama,” tandasnya. (*)

Artikel Terkait