Lombok Barat

Kemarau Makin Panjang, 529 Hektare Sawah di Gerung Berebut Air Irigasi

Lombok Barat (NTBSatu) – Kemarau panjang mulai menekan ketersediaan air untuk lahan pertanian di Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Sebanyak 529 hektare sawah kini hanya mendapat pasokan air sangat sedikit dalam sepekan.

Petugas Bendung Dasan Geres, Muh. Ridho mengatakan, debit air saat ini sangat minim. Ia menyebut, dari sembilan Pekaseh yang ada di bawahnya, mereka harus berbagi air dengan durasi sedikit.

“Saat ini airnya sudah sangat-sangat kurang, minim sekali,” kata Ridho kepada NTBSatu, Minggu, 6 September 2026.

IKLAN

Bendung Dasan Geres mendapat pasokan dari Bendungan Pengga. Namun, debit dari Pengga kini tidak mencukupi kebutuhan. Karena itu, pengelola mengandalkan interkoneksi dari Bendungan Gebong untuk menambah pasokan.

529 Hektare Hanya Teraliri Air Sehari

Ridho mengatakan, wilayah kerjanya mencakup seluruh Kecamatan Gerung. Wilayah tersebut meliputi Desa Babussalam, Kelurahan Dasan Geres, Gerung Utara, dan Gerung Selatan.

Untuk wilayah Gerung, petugas hanya memperoleh jatah air satu hari satu malam setiap pekan. Petugas kemudian membagikan pasokan tersebut berdasarkan wilayah pengairan.

IKLAN

“Untuk satu hari satu malam itu khusus wilayah saya adalah satu kecamatan, yaitu Kecamatan Gerung,” ujarnya.

Luas areal yang bergantung pada pembagian tersebut mencapai 529 hektare. Ridho mengakui waktu pengairan tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh sawah. “Sangat kekurangan pastinya, banyak yang tidak dapat,” katanya.

Kondisi tersebut membuat petugas harus mengatur distribusi air secara ketat. Mereka juga berkoordinasi dengan Pekaseh untuk menentukan pembagian air.

Keterbatasan pasokan membuat petugas mencari sumber air tambahan. Ridho mengatakan, petugas menampung air rembesan yang tersedia di sekitar bendung.

Air tersebut kemudian dibagi kepada sembilan Pekaseh selama enam hari lainnya. Setiap Pekaseh mendapat jatah berdasarkan luas wilayah dan saluran sawah yang mereka kelola. “Air rembesan itu yang dipakai, meskipun sedikit,” ujar Ridho.

Namun, pasokan tambahan tersebut tetap sangat terbatas. Ridho mengakui air rembesan tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan 529 hektare sawah.

“Enggak bakal bisa terpenuhi keseluruhan area,” katanya.

Pola Tanam Jadi Persoalan

Sebelumnya, Pengamat Perairan Kediri, Ida Sulyaningsih mengatakan, petani harus mengikuti pola tanam tertentu. Menurutnya, pola tanam membantu pengelola menyesuaikan kebutuhan dengan ketersediaan air.

Pada musim tanam ketiga, petani seharusnya menanam palawija karena kondisi memasuki musim kering. Namun, Ida menyebut petani tetap mendapat kelonggaran untuk menanam padi.

Kelonggaran tersebut muncul karena Dinas Pertanian memberikan bantuan bibit kepada petani. “Harus dilihat kondisi juga, ketersediaan air ini mencukupi tidak,” kata Ida, Selasa, 2 September 2026 yang lalu, saat mengecek kondisi irigasi sawah di Labuapi.

Ia mengingatkan keterbatasan air dapat memicu gejolak antarpetani. Karena itu, pengelola menerapkan sistem giliran untuk menjaga distribusi tetap berjalan. Petugas juga mengawasi pintu air selama 24 jam saat jadwal pengairan berlangsung.

Ida juga menyoroti persoalan sampah di sepanjang saluran irigasi. Menurutnya, sampah dapat memperlambat aliran air menuju lahan pertanian.

Sampah juga mempercepat pendangkalan saluran ketika petugas tidak segera membersihkannya. Selain sampah, petugas menghadapi bangunan liar di sepanjang saluran. Kondisi tersebut menghambat petugas ketika melakukan pemeliharaan dan normalisasi.

“Akses kita untuk melakukan pemeliharaan tertutup,” ujarnya. (*)

Artikel Terkait