LingkunganLombok Barat

Kekeringan Meluas di Lombok Barat, 15 Ribu Warga Krisis Air Bersih

Lombok Barat (NTBSatu) – Krisis air bersih akibat musim kemarau mulai meluas di Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Hingga awal Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lobar, telah menyalurkan 228 ribu liter air bersih kepada warga yang terdampak.

Distribusi tersebut mereka lakukan setelah kekeringan melanda lima kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Sekotong, Lembar, Gerung, Kuripan, dan Batulayar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lombok Barat, Toni Hidayat mengatakan, kekeringan kini menjangkau 11 desa dan 45 dusun. “Terdapat 5.560 kepala keluarga atau sekitar 15.156 jiwa yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.

IKLAN

Menurut Toni, penyaluran bantuan mereka lakukan berdasarkan hasil asesmen lapangan. Langkah itu untuk memastikan air bersih bisa warga yang paling membutuhkan terima.

Ia menyebut, hingga saat ini bantuan air telah menjangkau 6.102 kepala keluarga di berbagai wilayah terdampak. “Distribusi dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan,” katanya.

Pemkab Tetapkan Siaga Bencana Kekeringan

Selain mengirim air bersih, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, pemerintah kecamatan, PDAM, serta instansi terkait.

IKLAN

BPBD tetap menyiagakan personel, armada mobil tangki, dan peralatan pendukung. Langkah itu untuk mempercepat respons terhadap laporan masyarakat. “Kita siagakan personel dan peralatan pendukung,” jelasnya.

Di sisi lain, BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat selama musim kemarau. Warga juga diminta segera melapor apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat telah menetapkan Status Siaga Bencana Kekeringan sejak 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Status siaga tersebut menjadi dasar pemerintah mempercepat penanganan sekaligus mengerahkan sumber daya selama musim kemarau berlangsung.

BMKG Ingatkan Fenomena El Nino

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Staklim) NTB menyebut, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino yang hendak menghantam wilayah Indonesia.

Prediksinya, fenomena tersebut akan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan sampai awal 2027. Hal itu meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah NTB termasuk Lobar.

Prakirawan Iklim BMKG Staklim NTB, Tri Putri Ganesh Suadnya, meminta masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama prediksi masa waktu El Nino tersebut. Selain itu, BMKG juga menganjurkan masyarakat tidak terlalu beraktivitas di luar ruangan karena suhu udara dan sengatan matahari bisa berbahaya.

“Kami mengimbau masyarakat agar lebih bijak menggunakan air, mulai menghemat pemakaian air dari sekarang, serta mengurangi aktivitas yang langsung terpapar sinar matahari supaya kondisi kesehatan tetap terjaga,” jelasnya. (*)

Artikel Terkait