Dinas Perikanan KSB Integrasikan Teknologi Bioflok dan Asuransi Nelayan Lewat Kartu KSB Maju
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), meluncurkan strategi ganda untuk mendongkrak sektor perikanan daerah pada tahun 2026. Pemerintah daerah mengintegrasikan pengembangan teknologi budidaya modern dengan penguatan proteksi bagi para pelaku usaha perikanan.
Langkah taktis ini digerakkan melalui payung program Kartu KSB Maju Layanan Perikanan. Visi besar tersebut bertujuan menciptakan ekosistem perikanan yang produktif, berkelanjutan, sekaligus aman dari risiko kerja.
Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan, menegaskan komitmennya untuk memodernisasi cara kerja para pembudidaya lokal. Salah satu program prioritas yang kini siap digulirkan secara masif adalah perluasan sistem bioflok.
“Kami melihat teknologi bioflok sebagai solusi masa depan perikanan KSB karena sangat hemat penggunaan air. Kemudian, mampu menghasilkan produktivitas tinggi di lahan terbatas,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 3 Juni 2026.
Sistem budidaya ramah lingkungan ini mengacu pada model keberhasilan yang telah berjalan di Dasan Anyar sejak tahun 2018. Dinas Perikanan KSB optimistis replikasi pemanfaatan bakteri baik (bioflok) ini akan mempercepat kemandirian pangan daerah.
Agus menjelaskan, keberhasilan program perikanan berkelanjutan tidak bisa instan. Penerapan di lapangan wajib mengintegrasikan kesesuaian tata ruang, manajemen kualitas air, pakan yang baik, hingga adopsi teknologi.
Namun ia memastikan, inovasi teknologi ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya jaminan keselamatan bagi para pelakunya. Bersamaan dengan pengenalan bioflok, Dinas Perikanan KSB tengah gencar merapikan database penerima jaminan proteksi.
“Modernisasi hulu ke hilir harus berjalan beriringan dengan aspek perlindungan. Sehingga nelayan dan pembudidaya kita bisa bekerja dengan tenang,” lanjut Agus.
Pastikan Intervensi Anggaran Tepat Sasaran
Petugas di lapangan kini sudah satu bulan terakhir melakukan verifikasi dan validasi (verfak) data calon penerima asuransi nelayan 2026. Langkah krusial ini demi memastikan intervensi anggaran daerah tepat sasaran serta berkeadilan.
Dalam proses verfak tersebut, tim dinas menemukan sejumlah data yang tidak memenuhi kriteria, termasuk calon penerima di luar batas usia produktif. Dinas Perikanan KSB langsung memilah jenis proteksi berdasarkan profil risiko masing-masing profesi.
“Nelayan tangkap akan mendapatkan asuransi keselamatan jiwa karena risiko tinggi di laut, sedangkan pembudidaya seperti kelompok bioflok kita siapkan asuransi risiko usaha,” urainya.
Melalui integrasi Kartu KSB Maju ini, pemerintah daerah berharap ekosistem perikanan Sumbawa Barat bertransformasi menjadi sektor unggulan yang tangguh. Ia mengimbau para nelayan meninggalkan metode konvensional dan segera berkolaborasi aktif dengan penyuluh di lapangan.
“Pemerintah daerah tidak hanya memberikan bantuan bibit dan jaminan pasar, tetapi juga memastikan keselamatan jiwa dan modal usaha mereka terlindungi secara hukum,” pungkasnya. (*)




