Teater Indonesia Tak Lagi Berpusat di Jawa, Penastri Petakan Wajah Baru Seni Pertunjukan
Mataram (NTBSatu) – Praktik teater Indonesia memasuki babak baru. Setelah Reformasi 1998, perkembangan teater tidak lagi berpusat di Pulau Jawa. Komunitas teater di berbagai daerah kini membangun metode, bahasa artistik, dan ruang dialognya sendiri.
Perubahan itu mengemuka dalam Temu Teater Indonesia Wilayah Tengah yang berlangsung selama tiga hari di Mataram. Forum tersebut mempertemukan seniman dari NTB, NTT, Sulawesi, hingga Kalimantan untuk memetakan perkembangan teater Indonesia pascareformasi.
Anggota Tim Teknis Manajemen Talenta Nasional (MTN), Yudi Ahmad Tajudin mengatakan, orientasi teater nasional kini semakin tersebar ke berbagai daerah.
“Praktik teater Indonesia pascareformasi sudah tidak lagi berpusat di Jawa. Sekarang masing-masing daerah mencari metodenya sendiri dan berdialog dengan konteksnya sendiri,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu malam, 12 Juli 2026.
Menurut Yudi, sebelum 1998 banyak kelompok teater menjadikan Jawa sebagai rujukan utama. Kini kondisi tersebut berubah karena setiap daerah mulai membangun identitas pertunjukannya sendiri.
Ia menilai, perubahan itu menjadi pertanda positif. Sebab, keragaman masyarakat Indonesia kini tercermin dalam ragam ekspresi seni pertunjukan.
“Meluasnya orientasi teater ini menunjukkan perkembangan yang baik. Keragaman masyarakat akhirnya terwakili melalui keragaman pementasan teater,” kata pemeran dan sutradara nasional tersebut.
Petakan Dinamika Teater Indonesia
Ketua Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri), Shinta Febriany Sjahrir menjelaskan, forum tersebut bertujuan memetakan tantangan dan peluang teater di kawasan Indonesia bagian tengah. Hasil pemetaan itu akan menjadi arsip sekaligus sumber pengetahuan bagi komunitas teater di berbagai daerah.
“Kami ingin membaca bagaimana perkembangan teater Indonesia pascareformasi. Kami mulai dari Indonesia bagian tengah karena setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda,” ujarnya kepada NTBSatu.
Selama tiga hari, peserta mengikuti laboratorium teater, diskusi, serta pembacaan naskah drama. Forum itu mendapat dukungan dari Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya di bawah Kementerian Kebudayaan RI. Shinta berharap, forum tersebut melahirkan gagasan baru yang memperkaya produksi teater Indonesia.
“Kami ingin memantik percakapan dan kreativitas agar produksi teater semakin beragam,” kata peraih penghargaan Celebes Award pada 2007 tersebut.
Menurutnya, dinamika teater di NTB tentu berbeda dengan Sulawesi, Kalimantan, maupun NTT. Perbedaan itulah yang menjadi kekuatan dalam perkembangan teater nasional.
Dengan semakin kuatnya praktik teater di berbagai daerah, peta seni pertunjukan Indonesia kini tidak lagi bertumpu pada satu pusat. Sebaliknya, perkembangan teater tumbuh dari keberagaman pengalaman lokal yang memperkaya wajah kebudayaan Indonesia. (*)




