Kota Mataram

Padat Penduduk, Lingkungan Gomong Sakura Kesulitan Kelola Sampah

Mataram (NTBSatu) – Pengelolaan sampah di tingkat lingkungan Kota Mataram masih menemui tantangan. Kepala Lingkungan Gomong Sakura, HM. Bahaudin alias Aji menjelaskan, lingkungannya padat penduduk dan didominasi oleh hunian kos, sehingga pengaturan terkait pengelolaan sampah masih cukup sulit.

Aji menyebutkan, aspek operasional armada pengangkut di lingkungannya sudah berjalan dengan baik dan terjadwal.

“Untuk pengelolaan sampah, armadanya sudah aman. Alhamdulillah, sampai saat ini masih bekerja sesuai aturan. Kan aturan dari pemerintah itu jam 14.00 Wita, jam 15.00 Wita, dan terakhir jam 16.00 Wita standby,” jelasnya kepada NTBSatu, Kamis, 21 Mei 2026.

IKLAN

Untuk menyiasati sampah tidak berserakan, Aji mengakomodir warganya untuk mengumpulkan sampah secara rapi di satu titik.

“Jadi kalau belum bisa dibuang, nanti warga itu mengumpulkan ada di tanah kosong. Dimasukin kresek sampah-sampahnya, baru dikumpul nanti malam atau besok sampahnya dibuang lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, sudah melakukan sosialisasi pemilahan sampah berulang kali. Namun, hal ini masih sulit warga terapkan. “Kalau kesadaran (pemilahan sampah warga) masih sekitar 20-30 persen. Padahal sudah sering sosialisasi,” keluhnya.

IKLAN

Kondisi ini tambah parah dengan karakteristik wilayah yang padat penduduk dan hunian kos dominasi.

“Dari pemerintah itu, memilah antara sampah organik sama sampah plastik. Kalau sampah plastik itu ada nilai harga, itu buat warga saya. Sulitnya, anak-anak kos belum bisa kita atur sepenuhnya,” imbuh Aji.

Lebih lanjut, Aji menjelaskan, Lingkungan Gomong Sakura masih sulit untuk mengadaptasi program Tempah Dedoro maupun budidaya maggot karena keterbatasan lahan.

“Sulit berjalan di sini, karena padat penduduk. Nggak ada tempat. Mau buat seperti itu, di sini kan banyak orang, nggak boleh sembarangan. Ini banyak kos-kosan. Nggak ada pilihan lain. Jadi warga itu kresekin sampahnya,” tutup Aji. (Ashri)

Artikel Terkait

Back to top button