Kota BimaPemerintahan

Jadi Ujung Tombak Pemutakhiran Data Stunting, Gaji Kader Posyandu Jadi Sorotan

Kota Bima (NTBSatu) – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bima menempatkan Penyuluh Keluarga Berencana (KB) dan kader posyandu sebagai garda terdepan dalam melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) serta pemutakhiran data keluarga berisiko stunting.

Meskipun memegang peranan krusial, para kader di tingkat masyarakat hingga kini masih bekerja dengan apresiasi finansial yang minim. Kerap kali beban kerja yang mereka tanggung di lapangan tidak sebanding dengan honorarium bulanan dari pemerintah.

Kepala DPPKB Kota Bima, Ichwanul Muslimin mengakui, honorarium para kader di lapangan masih jauh dari kata layak. “Mereka kan tidak mendapatkan salary, honor yang layak. Ini menjadi tuntutan teman-teman kader di lapangan kecilnya honor yang pemerintah sediakan. Nominalnya seratus ribu per bulan,” ungkap Ichwanul pada NTBSatu, Senin, 24 Agustus 2026.

IKLAN

Meskipun besaran honorarium tersebut relatif jauh dari cakupan tugas yang mereka jalankan, Ichwanul menjelaskan sistem kerja para kader tidak berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Aktivitas penyuluhan dan pendataan memiliki fase-fase intensif tersendiri sesuai agenda program kerja.

“Tapi, dalam setahun itu mereka tidak bekerja full. Ada fase-fase mereka tuh bekerja,” Jelasnya.

Salah satu fase dengan beban kerja tertinggi terjadi saat proses pemutakhiran data keluarga berisiko stunting. Pada tahap ini, para kader turun langsung menyisir pemukiman warga untuk memastikan kevalidan data secara riil di lapangan.

IKLAN

“Misalnya pada saat pemutakhiran data keluarga berisiko stunting, mereka tuh memang visit dari rumah ke rumah mereka. Tidak by survey mereka, mereka dari rumah ke rumah, ya seperti itu,” tegas Ichwanul.

Mengingat peran vital mereka sebagai jembatan informasi program pemerintah ke masyarakat, pihaknya terus berupaya memperkuat kapasitas teknis para kader. Pembekalan teknik penyuluhan yang ramah dan persuasif terus diberikan agar interaksi para kader saat berkunjung ke rumah warga dapat diterima dengan baik.

Lewat penguatan peran dan keterampilan berkala tersebut, pemerintah berharap para kader tetap bersemangat menjadi ujung tombak penanganan stunting di tingkat tapak. (*)

Artikel Terkait