Atasi Sampah dari Hulu, DLH KSB Kenalkan Metode Ember Kompos untuk Warga
Sumbawa Barat (NTBSatu) — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbawa Barat melakukan terobosan strategis dalam menangani persoalan sampah dari hulu permukiman.
Langkah tersebut menjadi bagian komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan sistem pengolahan kebersihan yang lebih modern, humanis, serta efisien.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin, S.Pd., M.M.Inov. mengungkapkan, fokus utama pada pendampingan langsung. Program ini bertujuan agar setiap desa mampu mengelola potensi sampah mereka secara mandiri, tanpa membebani aktivitas harian warga.
“Desa yang sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu 3R tinggal kita operasionalkan kembali agar beroperasi secara maksimal,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 9 Juni 2026.
Pihak dinas akan mengarahkan penguatan program Bank Sampah bagi wilayah yang belum memiliki fasilitas pengolahan sampah terpadu tersebut. Rahmadin menilai, masyarakat Sumbawa Barat pada dasarnya sudah memiliki kecerdasan serta pemahaman baik.
Siapkan 38 Unit Roda Tiga
Ia menyebut, kendala utama warga di lapangan murni karena keterbatasan waktu akibat kesibukan kerja mereka sehari-hari. Sebagian besar warga yang bekerja yang kerap kesulitan meluangkan waktu memilah sampah rumah tangga.
“Jadi sebenarnya masyarakat kita itu cerdas dan sudah tahu cara mengelola sampah, termasuk tahu kalau sampah bisa menghasilkan uang,” lanjutnya.
Memahami kesibukan tersebut, Rahmadin membagikan formula praktis pengolahan sampah organik yang sangat sederhana untuk warga praktikkan rumah. Warga hanya perlu memanfaatkan barang bekas berupa ember cat yang mengalami modifikasi sedemikian rupa sebagai wadah penampung.
Teknisnya, warga cukup melubangi bagian bawah ember cat bekas tersebut lalu menanam wadah itu ke dalam tanah halaman. Setiap hari, sisa makanan atau limbah sayuran dapur langsung masuk ke dalam ember tanpa proses pemilahan rumit.
“Sampah sisa makanan tinggal dimasukkan ke sana lalu ditutup, lalu hasilnya bisa dipanen menjadi kompos yang bernilai ekonomi,” jelasnya.
Dalam kurun waktu sekitar tiga minggu, sampah organik tersebut akan melebur melalui proses fermentasi alami menjadi pupuk kompos. Metode berskala mikro ini mampu mengurangi volume sampah rumah tangga secara signifikan sebelum beralih menuju Tempat Pembuangan Akhir.
Guna mendukung kelancaran pengangkutan sisa sampah residu, DLH Sumbawa Barat juga menyelaraskan program hulu melalui penyediaan armada roda tiga. Pihak dinas memastikan kesiapan 38 unit armada roda tiga yang sudah tersedia tinggal menunggu waktu operasionalnya.
“Bupati memberi arahan penggunaan roda tiga agar bisa masuk jalan sempit, dan unitnya sudah ada tinggal menunggu waktu,” pungkasnya (*)




