Pemkot Mataram Serap Aspirasi Akademisi dan Komunitas, Siapkan Transformasi Kota Berbasis AI
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram membuka ruang kolaborasi dengan akademisi, peneliti, komunitas, dan pegiat teknologi untuk merumuskan masa depan kota yang lebih cerdas, inklusif, dan berbasis data.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Big Table Mataram 2026 bertema Mataram Kota yang Layak bagi Semua: Merancang Masa Depan Kota yang Cerdas, Inklusif, Rendah Karbon, dan Berdaya Hidup. Kegiatan berlangsung di Deco Caffe, kawasan Dasan Agung, Jumat, 5 Juni 2026
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram, M. Ramadhani, mengatakan forum seperti ini menjadi ruang penting bagi pemerintah untuk mendengarkan langsung gagasan, kritik, dan masukan dari berbagai kalangan.
“Ini sesuatu yang luar biasa, surprise buat saya. Sebagai representasi pemerintah kota, saya melihat komunitas, akademisi, dan anak-anak muda yang hadir malam ini sebagai aset yang sangat berharga bagi Kota Mataram,” ujarnya.
Menurutnya, Pemkot Mataram tidak bisa bekerja sendiri dalam menjawab tantangan perkotaan yang semakin kompleks. Terutama pada era digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Ramadhani mengatakan, jika Diskominfo selama ini dikenal sebagai “mulut dan telinga” pemerintah, maka dalam forum tersebut pihaknya hadir lebih banyak sebagai pendengar.
“Kalau Kominfo selama ini terkenal sebagai mulut dan telinga pemerintah. Maka malam ini, kami hadir lebih banyak sebagai telinga. Kami datang untuk mendengar,” katanya.
Ia menilai, banyak gagasan yang muncul dalam forum tersebut dapat mendukung transformasi Kota Mataram menuju kota cerdas yang memanfaatkan data dan teknologi. Tujuannya, untuk menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan.
“Saya datang untuk mendengar dan merekam apa yang menjadi masukan, saran, dan kritik dari semua yang hadir. Nanti kami teruskan dan rumuskan menjadi bahan kebijakan pemerintah daerah,” ujarnya.
Tanggapan Akademisi
Forum tersebut menghadirkan sejumlah akademisi sebagai pemantik diskusi. Salah satunya, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Chrisna Trie Hadi Permana. Ia menekankan, konsep smart city tidak selalu identik dengan digitalisasi maupun pembangunan infrastruktur mahal.
Menurutnya, kota cerdas harus berangkat dari kebutuhan warga dengan memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan.
Sementara itu, Dosen Teknik Informatika Universitas Mataram, I Wayan Agus Arimbawa, menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjawab berbagai persoalan perkotaan.
“Smart City pada akhirnya membutuhkan Smart Citizen. Karena itu, peran kampus dan anak-anak muda menjadi sangat penting,” ujarnya.
Adapun dr. Wahyu Sulistya Afarah menekankan pentingnya pembangunan kota yang inklusif dengan memperhatikan kesehatan mental, kesetaraan gender, kelompok rentan, serta penyandang disabilitas.
Selain akademisi, forum tersebut juga menghadirkan berbagai komunitas yang bergerak pada bidang ekonomi kreatif, kecerdasan buatan, transisi energi terbarukan, hingga gerakan rendah karbon. Sejumlah inovasi yang diperkenalkan antara lain platform AI untuk membantu kebutuhan informasi warga. Platform digital transisi energi, serta sistem pengelolaan data karbon perkotaan.
Ramadhani menilai, berbagai inisiatif yang lahir dari komunitas tersebut menunjukkan besarnya potensi kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Kami tentu tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan dari kampus, komunitas, pelaku usaha, dan anak-anak muda yang memiliki inovasi. Apa yang saya lihat malam ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki Kota Mataram,” ungkapnya.
Para peserta forum sepakat mendorong ruang-ruang diskusi serupa sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Harapannya, kolaborasi tersebut mampu melahirkan berbagai inovasi untuk mendukung pembangunan Kota Mataram yang lebih terbuka, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk AI.
“Forum seperti ini penting karena menghadirkan banyak perspektif dalam satu meja. Semoga kolaborasi seperti ini terus berlanjut dan melahirkan solusi nyata bagi pembangunan Kota Mataram ke depan,” pungkas Ramadhani. (*)




