Lombok Timur

Berawal dari Kegelisahan, Yunandi Ajak Warga Timbanuh Berhenti Bergantung Pada Daerah Lain

Lombok Timur (NTBSatu) – Berangkat dari kegelisahan melihat banyak pemuda desa memilih merantau setelah lulus sekolah, Yunandi, pemuda asal Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, membentuk gerakan pertanian berbasis komunitas yang kini dikenal sebagai Duta Sayur Timbanuh.

Komunitas tersebut lahir sekitar tahun 2017-2018. Berawal dari keputusan Andi yang gagal melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Saat itu, ia memilih untuk tetap tinggal di kampung halaman dan mencoba membuktikan bahwa masyarakat bisa hidup layak dari tanah sendiri.

“Teman-teman yang tidak kuliah rata-rata merantau ke luar daerah atau luar negeri. Saya berpikir, masa kita tidak bisa hidup di tanah sendiri,”ujarnya pada NTBSatu, Kamis, 4 Mei 2026.

IKLAN

Dengan modal benih cabai yang ia peroleh dari orang tua temannya, Andi mulai menggarap lahan yang tersedia. Ia kemudian mengajak beberapa pemuda yang baru pulang merantau untuk ikut bertani.

Hasil panen perdana memberikan keuntungan dan menjadi titik awal dan lahirnya Duta Sayur Sembalun. Andi kemudian mengumpulkan belasan pemuda. Ia menyakinkan mereka bahwa sektor pertanian memilki peluang pertanian memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

“Tanah kita subur. Tidak seharusnya kita terus bergantung pada daerah atau negara orang,”katanya.

IKLAN

Dalam mengelola komunitas tersebut, Andi tidak hanya berperan sebagai penggerak. Namun juga menjadi penyedia modal, pendamping budaya hingga penghubung pemasaran hasil panen.

Ia meminjam dana sebesar Rp50 juta kemudian memutar anggaran itu untuk membantu anggota membeli pupuk, bibit, mulsa, dan kebutuhan produksi lainnya. “Tantangan berat waktu itu karena permodalan. Akhirnya saya ambil inisiatif untuk ambil pinjaman dari dana KUR pemerintah Rp50 juta,” ujarnya.

Skema yang ia terapkan pun sederhana. Petani tidak wajib mengembalikan modal secara tunai. Pengembalian dilakukan bertahap saat panen dengan menyisihkan sebagian kecil hasil penjualan.

Terapkan Skema Gotong Royong

Selain itu, Andi juga menerapkan sistem gotong royong untuk menekan biaya gotong royong untuk menekan biaya produksi. Anggota komunitas saling membantu mengerjakan lahan, mulai dari membuat bedengan, menanam hingga panen secara bergiliran sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tenaga kerja.

Tak hanya berhenti di produksi, ia juga mengajak anggota memahami rantai pemasaran. Para petani ia bawa langsung ke pasar agar mengetahui mekanisme distribusi, pembentukan harga hingga kebutuhan pasar.

“Supaya mereka tahu bagaimana pemasaran, bagaimana pengelolaan dan bibit yang bagus,” ujarnya.

Ketika jumlah anggota terus bertambah hingga mencapai sekitar 50 orang, Andi membagi komunitas ke dalam beberapa kelompok agar lebih mudah ia kendalikan.

Setiap kelompok memiliki penanggung jawab masing-masing, sementara sistem permodalan dan pemasaran tetap terhubung dalam jaringan yang sama.

Menurutnya, pola tersebut membuat komunitas tetap berkembang tanpa membebani satu orang pengelola.

Perjalanan Tidak Selalu Mulus

Meski demikian, perjalanan Duta Sayur Timbanuh tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar datang dari keterbatasan modal dan minimnya peralatan modern. Kondisi terberat terjadi saat pandemi Covid-19 pada 2020 ketika akses distribusi hasil pertanian terganggu akibat pembatasan aktivitas masyarakat.

Banyak hasil panen yang tidak terserap pasar sehingga modal komunitas sempat macet. Dalam kondisi itu, Andi mengaku pernah berpikir untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain.

“Waktu itu saya sempat mau mencari pekerjaan lain karena modal tidak bisa berputar,” katanya.

Namun dukungan keluarga dan anggota komunitas membuatnya mengurungkan niat tersebut. Mereka meminta Andi tetap melanjutkan perjuangan yang telah dirintis bersama.

“Teman-teman bilang, kalau saya berhenti berarti semua juga berhenti,”.

Dari situ, Duta Sayur Timbanuh kembali bangkit dan terus berkembang hingga sekarang. Andi menyebut dampak paling nyata adalah semakin banyak warga yang memilih bertani dibanding merantau ke luar daerah atau luar negeri.

“Kalau tahu seperti ini dari dulu, mungkin tidak perlu merantau,” kata Andi menirukan pengakuan sejumlah anggotanya.

Namun di balik perkembangan tersebut, persoalan modal masih menjadi tantangan utama. Hingga kini, sebagian besar aktivitas komunitas masih bergantung pada pinjaman yang diputar untuk kebutuhan anggota.

Bantuan pemerintah yang pernah diterima pun masih terbatas, berupa pinjaman bergulir dari desa untuk menunjang operasional kelompok.

“Kalau pertanian, Rp20 juta itu kecil sekali. Harga pupuk, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya terus naik,” ujarnya.

Karena itu, Andi berharap pemerintah daerah maupun Dinas Pertanian dapat memberikan perhatian lebih kepada komunitas yang telah berjalan hampir satu dekade tersebut.

Menurutnya, dukungan pemerintah dibutuhkan agar petani tidak terus bergantung pada pinjaman dan dapat membangun kemandirian modal.

“Sebenarnya tinggal pemerintah menggandeng saja. Potensinya besar dan masyarakatnya sudah bergerak,” ujarnya.

Ke depan Andi berharap, pertanian sayur yang ada di Desa Timbanuh dapat diperhatikan seperti daerah-daerah lain yang ada di Lombok Timur. (*)

Artikel Terkait

Back to top button