Breaking NewsLombok Timur

Sempat Terkendala Cuaca Buruk, Pendaki asal Malaysia yang Cedera di Rinjani Berhasil Dievakuasi

Lombok Timur (NTBSatu) – Seorang pendaki perempuan asal Malaysia, Chye Connsynn (41) mengalami cedera serius setelah mengalami kecelakaan di jalur pendakian Sembalun, Gunung Rinjani, Senin, 25 Mei 2026.

Setelah sempat tertahan satu malam karena cuaca buruk, korban akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan helikopter menuju rumah sakit rujukan di Denpasar, Bali, pada Selasa pagi, 26 Mei. 2026.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Astekita Ardiaristo menjelaskan, jika tim gabungan sudah berhasil mengevakuasi korban. “Iya (berhasil dievakuasi), alhamdulillah,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 26 Mei 2026.

IKLAN

Kronologi Kecelakaan

Kecelakaan tersebut bermula pada Senin, 26 Mei 2026 sekitar pukul 15.00 Wita. Dari keterangan Risto, pendaki asal Malaysia tersebut terjatuh di sekitar area pegunungan jalur pendakian Sembalun saat perjalanan turun dari puncak Rinjani.

Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami cedera parah hingga tidak bisa berdiri. Dengan keadaan korban, porter dan pemandu yang mendampingi langsung berinisiatif menggendong korban menuju tenda di Pelawangan 2.

Berdasarkan data dari e-Rinjani, Chye Connsynn mulai melakukan pendakian pada Minggu, 24 Mei 2026 melalui pintu masuk Sembalun. Kedatangannya tercatat resmi dan dilindungi asuransi jiwa.

IKLAN

Terkendala Kabut Tebal

Setelah menerima laporan kecelakaan, pihak Balai TNGR langsung berkoordinasi dengan tim evakuasi asuransi, Edelweis Medical Health Centre (EMHC), dan tim Nusa Medika untuk melakukan penilaian awal medis. Dari pemeriksaan awal tersebut, tim medis menduga kuat korban mengalami cedera serius pada bagian tulang ekor.

Tim gabungan sebenarnya sudah melakukan upaya evakuasi pada Senin sore. Bahkan pada pukul 16.18 Wita, helikopter penyelamat terpantau sudah lepas landas menuju pelawangan Sembalun.

Namun Risto menjelaskan, jika keadaan cuaca ekstrem di sekitar lokasi menjadi penghalang utama. “Heli sudah sampai di titik lokasi, namun kabut tebal dan heli berputar-putar untuk mencari celah di sekitar kabut,” jelasnya.

Karena jarak pandang kru yang terbatas dan menipisnya bahan bakar, helikopter terpaksa membatalkan pendaratan dan berputar balik menuju Denpasar.

Selanjutnya, tim medis menyarankan agar pendaki asal Malaysia tersebut tidak berpindah sementara waktu dari Pelawangan 2. Tim EMHC dan Basarnas langsung bergerak menuju Resor Sembalun pada Senin malam, untuk memberikan perawatan darurat di tenda korban.

Evakuasi Berhasil Lanjut ke Bali

Tim baru melanjutkan proses evakuasi udara pada Selasa pagi, setelah petugas piket TNGR melaporkan keadaan cuaca di Pelawangan Sembalun telah cerah. Sejak pukul 07.15 Wita, korban selanjutnya dipindahkan ke tandu darurat untuk mempermudah mobilisasi ke helikopter.

Helikopter penyelamat akhirnya berhasil mendarat dengan aman di helipad Pelawangan 2 pada pukul 08.15 Wita. Setelahnya, petugas lapangan langsung memindahkan korban ke dalam pesawat.

“Heli bertolak menuju RS rujukan di Denpasar Bali,” ujarnya.

Risto mengabarkan, helikopter mendarat di Benoa pada pukul 09.03 Wita dan korban langsung menuju Rumah Sakit Inmedika Denpasar untuk pengobatan lebih intensif.

Setelah berhasil melakukan operasi penyelamatan yang cukup berisiko, pihak Balai TNGR menyampaikan apresiasi pada seluruh unsur yang terlibat. Termasuk, Basarnas Mataram, tim medis, SGI Air Bali, Unit SAR Lombok Timur, serta para relawan lokal. (Inda)

Artikel Terkait

Back to top button