Bo’ Sangaji Kai Diakui Asia-Pasifik, Gubernur Iqbal Dorong Sejarah Bima Masuk Kurikulum
Mataram (NTBSatu) — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mendorong naskah kuno Bo’ Sangaji Kai tidak berhenti sebagai kebanggaan masyarakat Bima setelah diakui sebagai warisan dokumenter kawasan Asia-Pasifik.
Iqbal ingin naskah sejarah Kesultanan Bima itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diolah menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda. Khususnya masyarakat di wilayah budaya Mbojo.
“Alhamdulillah, salah satu warisan dokumenter kita akhirnya bisa diregister sebagai warisan budaya dunia untuk Asia Pasifik, yaitu Bo Sangaji. Kita harapkan ke depan diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi bagian dari kurikulum masyarakat kita, khususnya mereka yang di Bima,” ujar Iqbal di sela pertemuan UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) di kantor Arsip Nasional Indonesia (ANRI), Jakarta Selatan, 5 November 2026.
Bo’ Sangaji Kai merupakan naskah yang merekam sejarah Kesultanan Bima sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Naskah tersebut menjadi salah satu dari tiga warisan dokumenter Indonesia yang masuk Register Regional MOWCAP 2026, bersama Kidung Bhuwana Wināśa dan koleksi Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
Naskah tersebut juga mencatat berbagai peristiwa penting. Termasuk letusan Gunung Tambora pada 1815, pemerintahan, hubungan perdagangan, hingga kehidupan sosial masyarakat Bima.
Menurut Iqbal, isi Bo’ Sangaji Kai tidak hanya berkaitan dengan sejarah kerajaan. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai berbagai aspek kehidupan, termasuk fenomena alam.
“Dokumen ini berisi banyak aspek, bahkan di situ juga bicara mengenai geologi, mengenai vulkanologi, dan sebagainya, selain hal-hal yang bersifat sejarah dan etik,” jelasnya.
Karena itu, Iqbal menilai tidak semua isi naskah harus diajarkan secara utuh. Bagian-bagian yang relevan dapat diolah menjadi materi pembelajaran sesuai kebutuhan pendidikan.
“Mungkin tidak utuh satu buku, tetapi banyak bagian-bagiannya yang bisa menjadi kurikulum di NTB. Khususnya mereka yang berada di spektrum budaya Mbojo,” katanya.
Iqbal menilai pengakuan terhadap Bo’ Sangaji Kai menjadi momentum untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang mulai tergerus. Menurutnya, warisan tersebut harus kembali dipelajari generasi muda agar tidak berhenti sebagai dokumen sejarah.
“Kita ingin NTB mendunia bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan sejarah, budaya, dan pengetahuan yang kita miliki. Bo’ Sangaji Kai membuktikan bahwa dari Bima, kita punya warisan intelektual yang nilainya diakui dunia. Tugas kita sekarang memastikan warisan itu tetap hidup, dipelajari oleh generasi muda, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Iqbal.




