Labuhan Burung Kembangkan Wisata Mangrove Lewat Desa Berdaya
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pemerintah Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, menyiapkan anggaran Rp150 juta untuk mengembangkan wisata trekking mangrove melalui program Desa Berdaya 2026.
Program tersebut mengangkat potensi hutan mangrove seluas sekitar 8 hektare sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan. Pemerintah desa merancang jalur trekking di pinggir hutan agar pengunjung dapat menikmati kawasan mangrove tanpa mengganggu ekosistem di dalamnya.
Kepala Desa Labuhan Burung, Iwan Iskandar Putra mengatakan, pemerintah desa memilih pengembangan wisata karena melihat potensi alam yang dapat mendukung perekonomian masyarakat.
“Program Desa Berdaya ini kami fokuskan pada tematik desa wisata. Kebetulan kami menganggarkan Rp150 juta untuk pengembangan wisata trekking mangrove,” ujarnya kepada NTBSatu, Jumat, 30 Oktober 2026.
Iwan menjelaskan, pemerintah desa telah mengirim surat kepada dinas kehutanan untuk memperoleh izin pemanfaatan kawasan mangrove. Sebab, kawasan tersebut berada dalam kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Pemerintah desa juga memilih konsep jalur trekking di pinggir hutan. Langkah ini bertujuan menjaga ekosistem mangrove sekaligus menawarkan konsep wisata yang berbeda dari destinasi serupa di Kabupaten Sumbawa.
“Kami tidak melalui tengah hutan mangrove. Kami hanya lewat pinggirnya saja. Jadi, kami tidak ingin mengganggu ekosistem yang ada, terutama mangrovenya,” jelasnya.
Siapkan Jalur Trekking Bambu Sepanjang 100 Meter
Untuk mendukung pengembangan destinasi tersebut, pemerintah desa merancang jalur trekking berbahan bambu petung sepanjang 100 meter dengan lebar 2 meter.
Selain jalur trekking, pemerintah desa juga menyiapkan tiga unit berugak sebagai fasilitas pendukung bagi pengunjung. Iwan menyebut, pemerintah desa menambah jumlah berugak dari rencana awal karena menyesuaikan kebutuhan di lokasi wisata.
Pada tahap awal, pemerintah desa bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan mengelola destinasi tersebut. Selanjutnya, pemerintah desa melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk mengembangkan dan menjalankan kegiatan wisata.
Pemerintah desa juga mengalokasikan sekitar Rp16 juta hingga Rp17 juta untuk pelatihan Pokdarwis. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pengurus dalam mengelola wisata mangrove dan memberikan pelayanan kepada pengunjung.
Iwan mengatakan, pihaknya akan melibatkan pemerhati pariwisata, pendamping desa, serta dinas terkait untuk mendukung pelatihan tersebut.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Baiq Nelly Yuniarti menjelaskan, pemerintah provinsi mengarahkan Desa Berdaya Tematik untuk mengembangkan potensi lokal melalui tiga sektor utama, yakni ketahanan pangan, pariwisata, dan kelestarian lingkungan.
“Desa Berdaya Tematik kita arahkan, pemerintah desa dan kelurahan untuk mengembangkan potensi lokal melalui tiga tema utama, yakni ketahanan pangan, pariwisata, dan kelestarian lingkungan,” jelas Nelly, Jumat, 30 Oktober 2026.
Melalui pengembangan wisata mangrove tersebut, Desa Labuhan Burung berupaya mengoptimalkan potensi alam sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. (*)




