Kota Mataram

Disdag Kota Mataram Bantah Ada “Jatah Lapak” untuk Keluarga Pejabat di Sentra Kuliner Udayana

Mataram (NTBSatu) – Polemik dugaan pembagian “jatah lapak” bagi keluarga pejabat di Sentra Kuliner Udayana, Kota Mataram, akhirnya mendapat tanggapan dari Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Irwan Harimansyah, membantah keras tudingan adanya praktik bagi-bagi kuota lapak khusus untuk kerabat pejabat Pemkot Mataram.

“Bukan, itu hanya isu. Tidak ada bagi jatah atau kuota yang khusus untuk kerabat pejabat Pemkot Mataram,” tegas Irwan, Jumat, 29 Mei 2026.

IKLAN

Menurutnya, seluruh lapak UMKM yang tersedia di kawasan Sentra Kuliner Udayana telah melalui proses kurasi, dan masing-masing sudah memiliki nama pemilik atau penerima kuota resmi.

“Orangnya sudah ada namanya, tapi mereka belum aktif lagi. Dulu memang sempat aktif saat launching, itu pun hanya sekitar seminggu,” ujarnya.

Irwan menyampaikan keprihatinan atas kondisi kawasan kuliner yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah itu. Kawasan tersebut kini tampak sepi dan nyaris terbengkalai. Karena itu, pihaknya memberikan tenggat waktu selama tiga bulan kepada para pemilik lapak untuk menentukan keberlanjutan usaha mereka.

IKLAN

“Nah, saya kasih waktu tiga bulan mereka berembuk,” katanya.

Tak hanya itu, Dinas Perdagangan Kota Mataram berencana menggandeng Dinas Pariwisata untuk menghadirkan berbagai kegiatan, guna menghidupkan kembali kawasan kuliner tersebut.

“Pedagang minta ada event-event. Nanti kita kerja sama dengan Pariwisata,” tambah Irwan.

Pelapak Akui Ada Lapak “Dijatah”

Di sisi lain, pengakuan berbeda datang dari Nur, salah seorang pelapak yang hingga kini masih bertahan berjualan di lokasi tersebut. Ia mengaku, mengetahui adanya lapak yang masyarakat sebut untuk keluarga pejabat.

“Itu paling ujung sudah dijatah, keluarga kepala dinas perdagangan yang dulu,” ungkap Nur.

Nur juga mengaku, ia tidak membayar uang sewa lapak karena mendapatkan kuota dari keluarganya yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kota Mataram. Namun, ia enggan menjelaskan lebih jauh soal mekanisme pembagian lapak tersebut.

Proyek Rp1,6 Miliar Kini Sepi dan Mulai Rusak

Sentra Kuliner Udayana yang berada di kawasan Teras Udayana, Kota Mataram, kini dalam kondisi memprihatinkan. Proyek penataan UMKM yang menelan anggaran sekitar Rp1,6 miliar itu justru tampak sepi aktivitas dan terancam mangkrak.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar lapak terlihat kosong dan tidak beroperasi. Kondisi fisik bangunan pun mulai mengalami kerusakan akibat minim perawatan.

Dinding lapak terpenuhi oleh jamur dan noda hitam, sementara beberapa bagian material bangunan mulai lapuk akibat cuaca. Kawasan yang semestinya menjadi pusat kuliner dan destinasi UMKM unggulan itu kini justru terlihat kumuh dan tidak terawat.

Dari total sekitar 18 hingga 20 lapak yang tersedia, hanya tersisa tiga lapak yang masih aktif berjualan, itupun dalam kondisi sepi pembeli.

Nur mengungkapkan, sejak peresmian pada Maret 2024 lalu, kawasan kuliner tersebut hanya ramai pada awal peluncuran.

“Waktu launching katanya memang sempat ramai, tapi cuma bertahan full seminggu saja. Setelah itu langsung sepi dan banyak pedagang kosong karena tidak ada pembeli,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan keamanan semakin memperburuk kondisi kawasan. Menurutnya, banyak pedagang kehilangan barang karena area tersebut minim pengawasan pada malam hari.

“Malam-malam kalau tidak ditungguin, banyak maling. Banyak barang pedagang yang hilang,” katanya.

Nur berharap Pemerintah Kota Mataram tidak membiarkan kawasan tersebut mati perlahan. Ia meminta, pemerintah lebih kreatif menghadirkan berbagai kegiatan untuk menarik pengunjung dan menghidupkan kembali sentra kuliner tersebut. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button