Potret Anak Putus Sekolah di Lombok Timur, Bekerja Jadi Pemecah Batu Demi Bertahan Hidup
Mataram (NTBSatu) – Sebuah video di media sosial memperlihatkan isu anak putus sekolah di wilayah Desa Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur pada Jumat, 29 Mei 2026.
Terlihat sejumlah anak usia sekolah dasar terpaksa mengubur impian mereka untuk belajar, dan beralih profesi sebagai buruh pemecah batu, demi membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Seorang konten kreator pemilik video bernama Sadam Permana Wiyana, yang juga merupakan relawan kemanusiaan, menunjukkan bagaimana keadaan anak-anak tersebut.
“Kalian bayangin banyak anak yang putus sekolah, anak SD putus sekolah, itu kerja buat mecah batu di sini,” tulisnya, Jumat, 29 Mei 2026.
Suasana di Lokasi Penambangan Batu
Dalam video tersebut, terlihat tumpukan material batu apung yang menggunung di area terbuka dan tampak gersang.
Di antara hamparan material keras tersebut, tampak juga beberapa anak kecil berdiri bersama para ibu yang memegang alat pengetuk tradisional, serta karung putih berukuran besar.
Panas matahari yang menyengat tidak menghalangi aktivitas mereka untuk terus memecah batuan besar, menjadi serpihan-serpihan kecil.
Anak-anak tersebut juga mengumpulkan hasil pecahan batu ke dalam karung putih. Mirisnya, untuk satu pecahan yang membutuhkan tenaga ekstra, mereka hanya menerima upah sangat minim dari pengepul.
“Pecahan batunya masukin ke sini, sebesar ini Rp2 ribu, bahkan lebih besar lagi Rp2 ribu,” kata salah seorang warga.
Faktor Ekonomi dan Ketiadaan Biaya
Berdasarkan penuturan warga setempat, banyak anak putus sekolah akibat ketidakmampuan orang tua membiayai pendidikan lanjutan anak mereka.
Minimnya penghasilan membuat pemenuhan kebutuhan pangan harian, lebih mereka prioritaskan daripada biaya sekolah.
“Ya karena enggak ada biaya, enggak ada biaya sudah untuk kehidupannya sehari-hari, makan minum saja enggak ada,” ujar salah seorang warga.
Ibu tersebut juga menambahkan bahwa keadaan ini bukan hal baru, tapi realitas yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
Harapan dan Impian Anak Perantauan
Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik, anak-anak tersebut tetap menyimpan harapan besar untuk masa depan mereka.
Salah satu anak yang berada di lokasi bernama Rahma (8) mengaku jarang sekali bisa mengonsumsi daging, dalam menu makanan sehari-hari.
“Setahun sekali, pas kurban saja,” ujar Rahma pelan.
Meski menghadapi realita hidup keras di usia muda, Rahma dengan semangat menyatakan harapannya agar bisa kembali bersekolah dan mencapai cita-citanya.
Keadaan ini menegaskan perlunya perhatian intensif dari pemerintah daerah dan sektor terkait, untuk memastikan akses pendidikan dasar yang merata dan gratis bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)



