Kabupaten BimaLingkungan

Kabut Asap Muncul Bima dan Dompu, BMKG Tegaskan Bukan Akibat Karhutla Kalimantan

Bima (NTBsatu) – Kabut asap terlihat di sejumlah wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Fenomena ini menjadi perhatian serius masyarakat yang ada di Bima-Dompu, NTB, Senin 19 Oktober 2026.

Menanggapi fenomena itu, Meteorologi Kelas II Sultan Muhammad Salahuddin BMKG Bima langsung melakukan pemantauan citra satelit Himawari-9.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Sultan Muhammad Salahuddin BMKG Bima, Moch. Syaiful Annas membenarkan adanya kabut asap yang teramati di wilayah Bima-Dompu saat ini. Mereka menduga kabut asap itu berasal dari lokal.

“Kondisi udara kabur/haze yang teramati di wilayah Bima dan Dompu diduga berkaitan dengan asap dari aktivitas pembakaran lahan lokal,” kata Syaiful Annas, Senin 18 Oktober 2026.

Syaiful Annas menambahkan, hasil analisis tersebut mengarah pada dugaan bahwa kabut asap yang terlihat di wilayah Bima dan Dompu berkaitan dengan sumber pembakaran di sekitar wilayah lokal.

Kendati demikian, pihaknya menegaskan belum dapat memastikan lokasi dan sumber pasti kebakaran hanya berdasarkan pemantauan satelit.

“Perlu pengamatan langsung di lapangan untuk memastikan apakah kabut asap tersebut berasal dari pembakaran lahan, semak belukar, atau sumber lainnya,” kata dia.

Minta Masyarakat Tetap Waspada

Syaiful Annas menerangkan, kondisi cuaca yang minim curah hujan turut menjadi faktor yang perlu masyarakat waspadai. Dalam keadaan kering, asap dan partikel hasil pembakaran berpotensi bertahan lebih lama di atmosfer. Terutama ketika didukung oleh kondisi inversi suhu.

Inversi suhu merupakan kondisi ketika suhu udara pada lapisan tertentu meningkat seiring bertambahnya ketinggian. Sehingga pergerakan udara vertikal terhambat.

“Akibatnya, partikel di udara dapat lebih sulit terdispersi dan berpotensi bertahan di dekat permukaan,” tegasnya.

Kondisi tersebut membuat aktivitas pembakaran terbuka menjadi semakin berisiko. Terutama ketika vegetasi dan semak belukar berada dalam keadaan kering.

“Dugaan adanya pembakaran lokal perlu kami tindaklanjuti melalui pemantauan dan pemeriksaan langsung. Langkah ini penting agar sumber asap dapat kita ketahui secara pasti dan potensi kebakaran yang lebih luas bisa segera kita antisipasi,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya tetap perlu memantau kondisi tersebut. Perubahan cuaca, arah angin, serta munculnya titik kebakaran baru berpotensi memengaruhi konsentrasi asap dan jarak pandang apabila tidak diantisipasi sejak dini.

BMKG juga menyebutkan bahwa kualitas udara di wilayah Bima dan Dompu masih berada dalam kategori sedang berdasarkan pemantauan yang tersedia.

Kategori ini tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan kondisi udara. Upaya pencegahan tetap pelru agar konsentrasi asap tidak meningkat dan kualitas udara tidak memburuk.

Kabut Asap Kalimantan Tidak Tersebar ke Bima

Dia mengungkapkan, sebaran asap dari wilayah Kalimantan terpantau bergerak ke arah barat laut.

Dengan arah pergerakan tersebut, asap dari kebakaran di wilayah itu belum terpantau mencapai Nusa Tenggara Barat, khususnya Bima dan Dompu.

“Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9. Kami dari BMKG Bima belum mendeteksi adanya kabut asap signifikan yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang mencapai wilayah Bima dan Dompu,” bebernya. (MSR)

Artikel Terkait