Lombok BaratPeristiwa

Kebakaran di Lombok Barat Melonjak, 131 Kasus dalam 44 Hari

Lombok Barat (NTBSatu) – Kebakaran di Lombok Barat (Lobar) menunjukkan tren mengkhawatirkan menjelang akhir 2026. Setelah mencatat 80 kejadian sepanjang September, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lobar menangani 51 kejadian lagi hingga 14 Oktober.

Artinya, petugas menangani 131 kejadian kebakaran dalam rentang 44 hari sejak 1 September hingga 14 Oktober 2026. Angka tersebut memperlihatkan tingginya beban penanganan kebakaran dalam dua bulan terakhir.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lobar, Suherman, mengakui peningkatan kejadian pada September dan Oktober perlu mendapat perhatian.

“Intinya peningkatan luar biasa kejadian di dua bulan ini September dan Oktober,” kata Suherman kepada NTBSatu, Senin, 19 Oktober 2026.

Ia juga menyoroti kesulitan petugas ketika menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan perbukitan.

“Untuk kejadian kebakaran lahan hutan di atas bukit pegunungan yang tidak bisa dijangkau mobil pemadam,” ujarnya.

Menurut dia, penanganan kebakaran di wilayah tersebut membutuhkan kerja sama lintas unsur. Damkarmat berkoordinasi dengan camat, kepala desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat untuk menangani titik api.

Kebakaran Melonjak, Perbukitan Jadi Kendala

Damkarmat Lobar mencatat 174 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut meningkat 123,1 persen daripada periode yang sama pada 2025, ketika petugas mencatat 78 kejadian.

Lonjakan paling tajam terjadi menjelang akhir periode pemantauan. Pada Juli, Damkarmat mencatat 25 kejadian kebakaran. Jumlah itu meningkat menjadi 37 kejadian pada Agustus dan mencapai 80 kejadian pada September.

Dengan demikian, jumlah kebakaran pada September lebih dari dua kali lipat catatan Agustus. Kedua bulan tersebut menyumbang 117 kejadian.

Di balik jumlah kejadian, kondisi geografis menambah tantangan bagi petugas. Mobil pemadam tidak selalu dapat menjangkau titik kebakaran di atas bukit atau kawasan pegunungan.

“Kami kerahkan anggota Damkarmat melakukan pemadaman secara manual,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, petugas melakukan pemadaman secara manual bersama unsur kewilayahan dan masyarakat. Pola penanganan ini menunjukkan respons kebakaran tidak hanya bergantung pada armada, tetapi juga akses menuju lokasi dan dukungan personel di lapangan.

Lonjakan kebakaran bukan hanya persoalan seberapa cepat petugas memadamkan api. Tantangan berikutnya ialah mengurangi kejadian berulang dan memastikan upaya pencegahan berjalan seiring dengan kesiapan penanganan darurat.

“Ya kita perlukan penguatan pencegahan memang untuk kesiapsiagaan dalam menekan risiko kebakaran,” tutupnya. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait