GAPASDAP Soroti Rantai Masalah KMP Putri Yasmin: Bukan Sekadar Soal Kapal
Lombok Barat (NTBSatu) – Insiden kebakaran Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin di Selat Lombok membuka persoalan lebih luas dari sekadar kelayakan kapal.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP), Khoiri Soetomo, meminta semua pihak menunggu hasil investigasi resmi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Menurutnya, keselamatan pelayaran melibatkan banyak mata rantai yang saling berkaitan. “Terjadinya kecelakaan kapal itu tidak bisa berdiri sendiri,” kata Khoiri, Kamis, 13 Agustus 2026.
Khoiri menyampaikan pandangan tersebut setelah KMP Putri Yasmin terbakar di perairan Selat Lombok. Insiden itu menewaskan satu penumpang dan membuat sejumlah penumpang harus dievakuasi. Tim SAR masih mencari lima penumpang yang belum ditemukan hingga Kamis, 13 Agustus 2026.
Khoiri menegaskan, pihaknya tidak ingin membela operator KMP Putri Yasmin secara subjektif. KMP Putri Yasmin dan JEMLA Ferry sendiri tercatat sebagai anggota GAPASDAP. Namun, ia meminta semua pihak menjadikan insiden tersebut sebagai bahan evaluasi bersama.
”Saya tidak akan melakukan secara subjektif melakukan pembelaan,” ujarnya.
Khoiri juga meminta publik tidak langsung menyalahkan kapal atau operator. Ia menilai, investigasi KNKT harus menjadi rujukan utama untuk mengetahui penyebab kebakaran.
Menurut Khoiri, proses investigasi biasanya membutuhkan waktu hingga empat bulan. Hasil investigasi tersebut nantinya dapat menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan pelayaran.
Soroti Rantai Keselamatan
Khoiri menyebut, sistem keselamatan pelayaran memiliki banyak unsur yang saling berhubungan. Unsur tersebut mencakup operator, regulator, pelabuhan, BKI, galangan kapal, hingga akademisi.
Ia juga menempatkan pelabuhan sebagai salah satu titik penting dalam sistem keselamatan. Pelabuhan menjadi pintu awal bagi kendaraan dan barang sebelum masuk kapal.
”Pelabuhan adalah pintu utama, gate pertama yang menampung penumpang dan kendaraan,” katanya.
Menurutnya, pemeriksaan harus mampu mendeteksi kendaraan bermuatan berlebih atau barang berbahaya. Pemeriksaan juga harus menyasar barang yang dibawa penumpang maupun kendaraan.
Khoiri menilai, persoalan tersebut tidak cukup dibebankan kepada nakhoda atau operator kapal. Ia meminta seluruh mata rantai keselamatan menjalankan fungsi pengawasan masing-masing.
Kemudian, ia turut menyinggung potensi ancaman dari muatan kendaraan yang melebihi ketentuan atau Over Dimension Over Loading (ODOL). Ia menyebut, kendaraan dengan muatan berlebih dapat memengaruhi stabilitas kapal.
Selain itu, ia menyoroti barang berbahaya yang masuk melalui kendaraan maupun penumpang. Menurutnya, aturan internasional mengatur secara ketat pengangkutan barang berbahaya melalui kapal.
”Barang-barang yang berbahaya itu tidak boleh masuk ke dalam kapal,” tegasnya.
Ia meminta pelabuhan memperkuat pemeriksaan terhadap seluruh kendaraan sebelum naik kapal. Menurutnya, sistem pemeriksaan pelabuhan penyeberangan menghadapi tantangan berbeda dari bandar udara.
Pelabuhan penyeberangan memiliki banyak akses masuk menuju kapal. Kondisi tersebut membuat proses sterilisasi membutuhkan sistem pengawasan yang lebih kuat.
Khoiri juga mengapresiasi langkah ASDP yang mulai memperkuat sterilisasi pelabuhan. Ia menyebut pemerintah telah mengatur sterilisasi melalui regulasi sejak 2016. Pemerintah kemudian memperbarui aturan tersebut pada 2021.
Soroti Penggunaan Baterai Listrik
Khoiri turut menyoroti perkembangan penggunaan baterai listrik dalam kendaraan. Ia menyebut baterai kendaraan listrik memiliki karakter berbeda dari barang berbahaya konvensional.
”Baterai listrik itu kalau sudah terbakar dia menghasilkan oksigen,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit. Ia menilai perdagangan sepeda listrik antarpulau juga perlu mendapat perhatian serius.
Khoiri menyebut, harga murah dapat membuat standar keamanan produk menjadi beragam. Namun, ia tidak menyimpulkan baterai atau sepeda listrik menjadi penyebab kebakaran KMP Putri Yasmin.
Ia menegaskan, informasi tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui investigasi resmi. “Saya tidak berani memberikan kesimpulan saat ini,” katanya.
Usia Bukan Penentu Tunggal
Khoiri juga menolak anggapan bahwa usia kapal otomatis menentukan tingkat kelayakannya. Menurutnya, usia armada tidak memiliki hubungan langsung dengan kelayakan kapal.
Ia menyebut, kapal tetap dapat beroperasi selama memenuhi seluruh persyaratan keselamatan. Khoiri mengatakan KMP Putri Yasmin memiliki sejumlah sertifikasi dan pengawasan sebelum berlayar.
Menurutnya, kapal mendapat Surat Persetujuan Berlayar setelah memenuhi persyaratan yang berlaku. Ia juga menyinggung kondisi alat keselamatan kapal dalam insiden tersebut.
Menurutnya, inflatable life raft berhasil mengembang saat proses evakuasi. Ia juga menyebut, kapal memiliki sistem pemadam kebakaran dan sensor di sejumlah area. Namun, Khoiri kembali meminta publik tidak menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan penyebab kebakaran.
Investigasi KNKT Jadi Penentu
Khoiri menilai, investigasi KNKT harus menjawab seluruh pertanyaan yang muncul setelah insiden tersebut. Investigasi juga perlu melihat seluruh rantai keselamatan sebelum dan saat kapal beroperasi.
Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat kondisi kapal setelah kebakaran. Petugas juga perlu memeriksa proses pemeriksaan kendaraan dan barang sebelum keberangkatan.
Selain itu, investigasi perlu menelusuri sistem pengawasan, pemuatan, hingga prosedur keselamatan.
”Safety itu adalah mata rantai seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Menurut Khoiri, hasil investigasi harus menjadi momentum memperbaiki sistem keselamatan penyeberangan nasional. Ia berharap insiden KMP Putri Yasmin tidak berhenti sebagai persoalan satu operator.
Peristiwa tersebut, menurutnya, harus mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pelayaran. Terlebih, Khoiri mencatat tiga insiden kapal terbakar dalam dua pekan terakhir. Ia menyebut insiden tersebut terjadi di Samarinda, perairan Madura, dan Lombok.
”Setiap kejadian harus membawa pelajaran yang berharga untuk kita semua,” ujarnya. (*)




