Manifes KMP Putri Yasmin Dipertanyakan, Korban Bersaksi Sempat Berdesakan di Kapal
Lombok Barat (NTBSatu) – Data manifes KMP Putri Yasmin yang terbakar di Selat Lombok, berbeda dengan jumlah penumpang yang berhasil dievakuasi tim SAR. Kondisi tersebut kini menjadi salah satu hal yang akan pemerintah evaluasi.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut, manifes awal mencatat 114 penumpang. Namun, tim SAR telah mengevakuasi 173 orang dari kapal tersebut. Data tersebut mencakup 172 orang selamat dan satu orang meninggal dunia.
Dudy mengatakan, terdapat kemungkinan penambahan penumpang setelah Surat Persetujuan Berlayar terbit. Menurutnya, operator seharusnya melaporkan setiap perubahan jumlah penumpang sebelum kapal berlayar.
“Penambahan ini juga harus dilakukan untuk memastikan Basarnas tahu berapa yang harus dicari,” kata Dudy, Rabu, 12 Agustus 2026, malam
Ia mengatakan, perbedaan data tersebut akan menjadi bahan evaluasi pemerintah. Pemerintah juga masih menunggu kedatangan kapal lain untuk memastikan jumlah keseluruhan korban.
Dudy mengatakan, petugas akan kembali mendata penumpang setiap kapal tiba di pelabuhan. “Sejauh ini sudah ada 173,” ujarnya.
Berdasarkan data KSOP Kelas IV Padangbai, manifes KMP Putri Yasmin mencatat 114 orang. Data tersebut mencakup pengemudi dan penumpang kendaraan sebanyak 44 orang.
Selain itu, manifes mencatat 53 penumpang kendaraan roda dua. Sementara, terdapat 17 penumpang pejalan kaki dalam manifes. Jika dibandingkan dengan data evakuasi sementara, terdapat selisih 59 orang.
Namun, pemerintah belum menyimpulkan seluruh selisih tersebut sebagai penumpang tanpa manifes. Petugas masih melakukan verifikasi terhadap data penumpang dan korban.
Korban Bersaksi Sempat Berdesakan
Di tengah perbedaan data tersebut, kesaksian korban menggambarkan situasi penumpang saat proses evakuasi. Salah seorang korban selamat, Rani Reza Mariani, mengatakan kondisi kapal cukup ramai.
Warga Ganti, Lombok Tengah itu mengaku penumpang sempat berkumpul di satu bagian kapal. Menurut Rani, kru mengarahkan penumpang menuju bagian atas setelah asap mulai muncul.
“Semua disuruh ke atas. Mungkin karena di samping itu semua, kapal jadi berat sebelah,” katanya.
Rani mengatakan, kondisi semakin padat ketika penumpang berpindah tempat. Ia bahkan mengalami desak-desakan saat penumpang hendak turun.
“Pas sudah di atas sudah desak-desakan,” ujarnya.
Situasi semakin mencekam ketika asap semakin tebal dan api membesar. Lampu kapal kemudian padam sehingga penumpang kembali berpindah posisi.
Kru selanjutnya meminta penumpang meninggalkan kapal melalui jalur evakuasi. Rani memilih turun melalui tangga darurat sebelum akhirnya meninggalkan kapal.
Selisih Data Jadi Perhatian Pemerintah
Dudy mengatakan, akurasi manifes sangat penting dalam situasi darurat. Data tersebut membantu Basarnas menentukan jumlah orang yang harus dicari.
Data manifes juga berkaitan dengan pemenuhan hak korban melalui asuransi. Karena itu, pemerintah akan mengevaluasi mekanisme pelaporan jumlah penumpang.
“Ini salah satu yang akan menjadi bahan evaluasi kami,” kata Dudy.
Pemerintah belum menyebut selisih jumlah penumpang tersebut sebagai pelanggaran. Pemerintah juga belum mengaitkan perbedaan data dengan penyebab kebakaran. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih akan menyelidiki insiden tersebut. (*)




